MIGRAINES

January 20, 2010 at 9:24 am | In Sehat, Story | Leave a Comment
Tags: , , , ,

Beberapa hari yang lalu, saya mengalami migrain yang tak kunjung sembuh. Belum pernah saya mengalami sakit yang lama seperti saat itu. Sekali waktu rasa sakitnya sirna. Tapi, tak lama kemudian kumat lagi. Saya tidak mengerti apa penyebab utamanya. Mungkin, saya terlalu banyak pikiran. “Tapi, masak iya”, pikir saya saat itu. Bukannya setiap hari saya memang selalu banyak pikiran? he..he..he. Memikirkan bagaimana bisa makan, keponakan yang setiap saat menanyakan kapan tantenya pulang dan kerjaan. Atau memikirkan pengamen di dalam bis, yang seringkali menemani perjalanan saya dari Grogol-Kuningan dengan kisah monolognya tentang burung Kutilang. Serta si Kakek jompo di pojok jembatan CL (citraland) yang selalu menyapa saya dengan senyuman sambil memperlihatkan gigi ompongnya.

Hal-hal yang bagi sebagian orang dianggap sepele pun bisa menjadi bahan pemikiran saya. Seperti, kamar berantakan, makan menu apa hari ini (ini mah in accordance with isi kantong :d). Dan yang pastinya memikirkan bagaimana blog ini senantiasa update (Huhu, so hard! :-( ). Lagipula, bukankah hidup memang harus dipikirkan sebelum dijalani (atau sebaliknya?). Kalau tidak, mana bisa bertahan hidup (?).

Anehnya, saat saya berada di rumah, rasa sakitnya masih bisa ditolerir. Begitu keluar rumah, saya hanya bisa mengernyitkan alis untuk menahan sakit. Apakah ini ada hubungannya dengan tempat (maksudnya, rumah atau gedung)? Ah, tidak mungkin. Tapi, saya jadi teringat pada seorang ahli perbintangan (paranormal gitu). Namanya Guan Lu. Ia hidup di jaman kerajaan Wei (salah satu Kerajaan hasil pecahan Dinasti Han di China) pada sekitar abad ke 200-an M. Suatu ketika, seorang istri Hakim dari kerajaan tersebut menderita sakit kepala (saya tidak tahu persis apakah sakitnya melebihi saya atau tidak ;-) ). Guan Lu diminta memberitahu penyebabnya. Selidik punya selidik, ternyata rumah sang hakim itu dibangun di atas kuburan. Ironisnya, mayat yang katanya memegang tombak itu, bagian kepalanya ada di dalam tembok rumah, sedangkan bagian kakinya ada di luar tembok, sehingga membuat dia sangat menderita. Dia lalu mengadu kepada Yang Mahakuasa. Akibatnya, istri sang hakim mengalami sakit kepala. Hal itu sebagai imbalan atas perbuatan mereka yang telah menyiksa sang mayat (disebut juga sebagai karma). Benar saja, setelah dilakukan penggalian, ditemukan mayat yang sudah lapuk, persis seperti yang diramalkan oleh Guan Lu.

Lalu, apa hubungannya dengan sakit kepala saya? Hem, bisa jadi gedung kantor yang saya tempati saat ini adalah bekas kuburan. Soalnya, di tempat saya bekerja sebelumnya, gedungnya pun juga dibangun di atas makam. Saya mengetahuinya dari seorang OB (Office Boy) yang sudah lama bekerja di sana. Hanya saja, posisi mayatnya mungkin tidak separuh di dalam bangunan dan separuh di luar. Barangkali itu pula yang membuat saya tidak pernah mengalami sakit kepala yang luar biasa sakit selama bekerja di sana (in my imagination, he…he..he..). (baca entri selanjutnya…)

Nama Kami adalah Banjir dan Macet

December 22, 2009 at 10:09 am | In Banjir, Macet, Story | 1 Comment

Dahulu, jauh sebelum saudara kembar itu lahir, seseorang datang menemui Bapak kandung mereka. Orang itu menyarankan agar “istri” sang Bapak menelan pil KB demi mencegah dua saudara kembar tadi melihat dunia. Tapi sang Bapak menolak dengan tegas. Sang istri malah disuruh menelan hormon kesejahteraan yang berasal dari pemilik pusat perbelanjaan dan properti atas jasanya yang tiada tara dalam memuluskan keinginan mereka untuk membangun Jakarta yang lebih modern. (baca entri selengkapnya…)

Get your Experience at Eat and Eat – Creating Food Adventure

December 9, 2009 at 1:10 pm | In Jalan-jalan, Kuliner, My day, Story | Leave a Comment

Sudahkah anda hunting ke tempat ini? Kalau ya, mungkin anda punya experience menarik baik mengenai makanan maupun tempat di sana. Eat and Eat ini berada di lantai 3, Mall Kelapa Gading 5 (MKG 5) Jakarta Utara. Jika anda sudah berada di tempat itu, anda seolah sedang dibawa pada suasana pedesaan. Ditambah lagi dengan kehadiran delman, sepeda dan becak, semakin menambah kuat nuansa pedesaan. Kandang ayam, yang isinya ayam sungguhan pun ada. Sampai pangkas rambut rapih dengan menggunakan peralatan tradisional juga ada-meskipun hanya dijadikan sebagai pajangan. (baca entri selengkapnya…)

Bursa Kerja 2009

November 11, 2009 at 5:00 am | In Dunia kerja, Pendidikan | Leave a Comment
Tags:

bursa-kerja
Buat teman-teman yang sedang nyari kerja atau udah kerja tapi pengen nyari kerjaan yang lebih baik, atau ingin berbagi informasi dengan saudara/teman, ada kabar gembira nih!
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi bekerja sama dengan Universitas Trisakti dan Visijobs akan menyelenggarakan:

BURSA KERJA 2009

Acara ini akan dibuka langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Bapak Fauzi Bowo.
Waktu : 20 – 21 November 2009
Pukul : 09.00 s/d 17.00 WIB
Tempat : Gelanggang Mahasiswa, Kampus A, Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jl. Kyai Tapa No. 1, Grogol Jakarta Barat

Jangan sampe lupa lho…!! Catet!
Ohya, ada ada lagi nih, GRATIS!!!Tiket masuk plus Pembuatan Kartu Kuning (online)

Contact Person: Bpk. Asep (0815 168 2441)

Bagi teman-teman yang ingin mengetahui perusahaan peserta Bursa Kerja 2009 ini, bisa baca lengkapnya di sini.

Open Your Heart!

October 20, 2009 at 4:00 am | In Dunia kerja, My day, Story | 2 Comments
Tags: , ,

Open_Your_Heart

Jika berbicara dalam konteks keimanan, senyum merupakan solusi cerdas mengatasi kecemasan seseorang. Sekiranya anda sedang tersenyum, lalu dikepala anda ditempeli sebuah alat bernama EEG (Electro Encelopalo Graphy), dalam layar monitor TV akan terlihat sebuah konfigurasi susunan syaraf yang sangat indah. Konfigurasi yang indah inilah yang akan membantu anda untuk berpikir lebih jernih dan tenang dalam melihat sesuatu, serta memiliki kemudahan dalam memahami sebuah permasalahan.
“barangsiapa menyebarkan benih kebaikan dengan tulus, maka ia akan kembali dalam bentuk kebahagiaan.”
(baca entri selengkapnya…)

Tragedi Balsem

October 12, 2009 at 3:59 am | In Kisah, Story | Leave a Comment

rheumason
(Pondok Pesantren Nurul Jannah)
Angin bertiup sangat kencang, menerpa pohon-pohon besar yang berbaris rapi di halaman pondok. Tak ada hujan malam itu. Bintang pun enggan menampakkan diri.
Di dalam pondok, terdengar suara para santri yang ramai bersahutan satu sama lain. Jumlah mereka sepuluh orang. Rata-rata berusia sekitar tujuh sampai 10 tahun. Mereka sedang menunggu pelajaran ‘tata cara menyikat gigi dengan baik’.

Tiba-tiba, seorang Ustadz datang menghampiri mereka dengan sedikit tergesa-gesa. Tangan kanannya memegang balsem. Mungkin sang Ustadz baru saja mengoleskan keperutnya yang sedang kembung.
“Guntur, odolnya mana?”, bertanya Ustadz kepada seorang anak yang bernama Guntur.
“Saya nggak tau, Ustadz.”
“Lho, bukannya kamu yang menyimpan odolnya kemarin, Ntur?”
“Iya, tapi sekarang saya nggak tau lagi ditaruh dimana, Ustadz”, Guntur meyakinkan Ustadznya.
“Kok bisa nggak tahu? Jangan-jangan kamu makan odolnya ya?”, tiba-tiba raut muka sang Ustadz berubah.
“Enggak, Ustadz!”, bantah Guntur tegas.

Sang Ustadz mengalihkan pandangannya ke sembilan anak yang lain, setelah sebelumnya menyodorkan balsem yang digenggamnya ke tangan Guntur. Guntur lalu memutar tubuhnya 180 derajat, agak menjauh dari teman-temannya. Merasa kesal telah dituduh memakan odol, dilemparkannya balsem titipan sang Ustadz ke arah tempat wudhu. “Praakkk!!!”, botol balsemnya terpelanting keras. Sementara sebagian isinya menempel ke dinding.

Sementara itu, anak-anak yang lain diperintahkan untuk segera menuju tempat berwudhu. Mereka berbaris rapi. Sedangkan Guntur tak lagi kelihatan batang hidungnya.
“Ayo anak-anak, kita mulai pelajaran “cara sikat gigi yang baik”, ajak Ustadz.
Ketika sang Ustadz tidak juga menemukan odol, matanya tiba-tiba merapat ke dinding. Diambilnya gumpalan putih yang menempel di dinding yang disangkanya adalah odol. Kemudian satu persatu dibagikan ke sembilan sikat gigi santrinya. Ustadz pun mulai melakukan peragaan cara sikat gigi yang baik, yang segera diikuti oleh anak-anak. Tidak lama kemudian,
“Pedas….pedas, Ustadz”, anak-anak serempak menjerit.
“Pedas?”, sang Ustadz heran.
“Pedaaassss….huargh….pedas!.”, ruangan wudhu seketika ramai oleh jeritan anak-anak sambil membuka mulut mereka lebar-lebar. Buru-buru mereka berkumur tanpa menunggu lagi komando dari sang Ustadz.

***
(Keesokan harinya)

“Teman-teman, saya minta maaf. Karena saya, kalian batal belajar “cara sikat gigi yang baik”, Kata Guntur merasa bersalah pada kawan-kawannya.
“Guntur nggak salah, kok. Yang salah itu Bapak karena telah menuduh Guntur memakan odol. Ditambah lagi Bapak telah memberikan balsem kepada teman-teman Guntur untuk dipakai sebagai odol.”, ungkap sang Ustadz merasa bersalah.

‘Hearrgghh…….!!!”, Anak-anak serentak menarik nafas.

Living in The Kost

October 10, 2009 at 1:40 pm | In Story | 3 Comments
Tags: ,

for rent
Bagi sebagian orang, terutama yang hidupnya merantau jauh dari keluarga, baik karena tuntutan kerja maupun sekolah/kuliah, hidup ngekost menjadi pilihan yang tepat. Namun, pilihan tersebut bukannya tak menuai resiko. Untung dan rugi tentu saja selalu ada. Dari beberapa orang yang saya temui, di antara mereka banyak yang mengalami kesulitan. Salah satunya adalah kurang bisa beradaptasi baik terhadap lingkungan baru maupun terhadap menu makanan. Bahkan, tak jarang hal itu menimbulkan stres tersendiri. Ini tentuya akan berdampak buruk pada kualitas kerja (bagi yang sudah bekerja) dan kuliah (bagi yang masih kuliah) kita. Kerja/kuliah menjadi terganggu karena sulit berkonsentrasi. Waduh, bisa berabe tuh!

Nah, untuk mengatasi masalah di atas, beberapa hal di bawah ini penting untuk anda baca. (baca entri selengkapnya…)

Kado Ulang Tahun Buat Rima: Sebuah pelajaran dari Gempa Sumbar

October 7, 2009 at 9:14 am | In Story | Leave a Comment
Tags: , ,

ibu terduduk
Perempuan setengah baya itu terlihat duduk lesu. Tubuhnya disandarkan pada dinding pos penjagaan polisi yang terletak di depan sebuah kampus yang ambruk oleh gempa tiga hari yang lalu. Gempa dengan kekuatan 7,6 dalam skala richter itu benar-benar telah meluluh-lantakkan seluruh Kota Minang. Sudah dua hari ia di sana. Pandangannya tak pernah lepas dari reruntuhan gedung kampus, tempat buah hatinya kuliah itu. Sesekali matanya mengarah kehandphone yang ia genggam. Matanya bergerak mengikuti kata demi kata dari kalimat sms yang dikirim anak semata wayangnya sebelum musibah itu datang. “Ma, Rima masih di kampus, msh ada kelas. Jgn lupa beliin baju ulang tahun buat Rima ya Ma…”. (baca entri selengkapnya…)

Ayah, Ijinkan Aku Bertanya pada Tuhan

September 30, 2009 at 8:14 am | In Story | Leave a Comment

Ayah, teman-temanku sedang merintih
di dalam reruntuhan sekolah yang tinggal menyisakan atap
Ayah, beritahu aku cara membebaskan mereka
dari sesaknya dada di dalam sana?

Ayah, suara rintihan teman-temanku tak lagi terdengar
Apakah itu pertanda,
mentari tak kan pernah menyapa wajah mungil mereka lagi?

Ayah, jangan tahan kedua kakiku
Biarkan kakiku bebas
Biarkan ia berlari
Mengantarkan pertanyaanku pada Tuhan
“Mengapa Kau ambil teman-temanku, Tuhan?
Bukankah mereka Kau titipkan
Tuk menjadi temanku,
dikala Ayah dan Bundaku bergemul dengan peluh
demi memastikan perutku terisi malam ini?”

Ayah, mengapa tidak kau lepaskan genggamanmu?
Biarkan aku terbang membawa pertanyaan pada Tuhan
“Jika mereka bukan milikku,
Lalu milik siapakah mereka, Tuhan?”

Ayah, tubuhku semakin tak berdaya
karena genggamanmu yang tak jua kau lepaskan
Bantu aku menyampaikan pertanyaan terakhirku pada Tuhan
“Apakah mereka hanya titipan dari-Mu, Tuhan?
Jika iya, mengapa timbangan hatiku menjadi berat,
Disaat titipanMu itu Kau ambil kembali?”

“Sesungguhnya dibalik musibah, terdapat kehidupan”

Jakarta, 30 September 2009
AH

Turut berduka cita atas musibah yang dihadapi saudara-saudara kita di Sumatera atas bencana gempa bumi yang mengguncang tanggal 29 september 2009 (Padang dan sekitarnya) dan 1 Oktober 2009 (Jambi dan sekitarnya). Semoga saudara-saudara kita diberi kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi musibah ini.

Selamat Menyambut Hari Kemenangan

September 20, 2009 at 5:02 am | In Story | Leave a Comment

42-16085727

Ramadhan berlalu, semoga b’temu kembali,
Kita sambut kemenangan di Idul Fitri
Maafin aku ya temans
Untuk segala silap dalam memandang
LIDAH yang telanjur berkata, TELINGA yang salah mendengar
PIKIRAN yang khilaf menafsir dan HATI yang salah menduga

Ur Sista
_Asami Hishochi dan Family
_

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.