Catatan Asami

Berpikir untuk bergerak……

Berqurban untuk Korban Merapi

مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada hari raya qurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan qurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu dan kuku-kukunya. Sesungguhnya sebelum darah qurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima di sisi Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berqurban.” (HR. Tirmidzi)

Kepada seluruh teman-teman, saya ingin mengajak anda untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya di hari raya ‘Iedul Adha 1431H.

Info berikut ini berasal dari salah seorang saudara kita di Srumbung, Magelang (20 Km dari puncak Merapi).

Terdapat 3 (tiga) pahala lebih yang akan anda peroleh, apabila anda membeli dan menyalurkan qurban pada warga korban Merapi:

1. Saat ini, Pengungsi banyak yang pusing dengan ternak mereka. Jika terus dipelihara, tidak ada lagi rumput yang tersisa (habis tertimbun material Merapi). Jika hendak dijual, harganya terlalu murah. Dengan Anda membeli qurban dari mereka, Anda telah membantu mereka terlepas dari beban tersebut.

2. Pengungsi umumnya hanya diberi makan dengan mie instan, sekerat tempe/tahu dan sayur kubis. Dengan Anda menyalurkan qurban kepada mereka, Anda telah membantu kecukupan gizi mereka, sehingga mereka dapat tetap sehat selama berada di pengungsian.

3. Pengungsi banyak yang mulai terserang sindrom “merasa diabaikan oleh pihak-pihak yang seharusnya mengurusi mereka”. Dengan Anda menyalurkan qurban kepada mereka, Anda telah turut membantu proses mental recovery yang tengah berlangsung.

Dengan 7,5 juta dan 1,3 juta, Anda sudah akan mendapatkan hewan qurban dengan kualitas istimewa.

Bagi anda yang diberikan kecukupan rizki oleh Allaah, info ini bisa menjadi peluang besar dalam rangka meraih pahala Allaah sebanyak-banyaknya untuk berqurban bagi korban Merapi.

Adapun bagi Anda yang belum, tidak mengapa, karena Anda pun bisa meraih pahala sebanyak2nya dengan memforward info ini ke orang-orang yang Anda kenal.

“Barangsiapa yang memiliki kelonggaran dan tidak mau berqurban maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”(HR Ahmad dan Ibnu Majah)

“Menyembelih hewan pada hari raya qurban, aqiqah (setelah mendapat anak), dan hadyu (ketika haji), lebih utama daripada shadaqah yang nilainya sama.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi)

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi contact person:

Bapak Yogie W. Abarri

No. Hp: 085228409893

Advertisements

Membaca Problematika Politik Indonesia dan Dunia Internasional

Pendahuluan

Secara sederhana, politik didefinisikan sebagai proses interaksi antara pemerintah dan masyarakat untuk menentukan kebijakan publik (public policy) demi kebaikan bersama. Atau menyangkut proses who get what, when and how. Sedangkan sistem politik mencakup rangkaian input, proses dan output. Input dalam suatu sistem politik adalah aspirasi atau kehendak masyarakat berupa tuntutan, dukungan atau apatisme. Proses dalam suatu sistem politik (demokrasi) mencakup serangkaian tindakan pengambilan keputusan baik oleh lembaga legislatif, eksekutif maupun yudikatif dalam rangka memenuhi atau menolak aspirasi masyarakat. Sedang output sistem politik berupa kebijakan publik baik berupa penerimaan ataupun penolakan aspirasi masyarakat tersebut.

Struktur politik merupakan  keseluruhan bagian atau komponen (berupa lembaga-lembaga) dalam suatu sistem politik yang menjalankan fungsi atau tugas tertentu. Tugas lembaga politik disebut fungsi politik. Dan rangkaian dari keseluruhan fungsi politik dari lembaga-lembaga politiki disebut proses politik.  Dengan demikian, sistem politik merupakan kesatuan antara struktur dan fungsi-fungsi politik, dimana fungsi politik mencakup perumusan kepentingan, pemaduan kepentingan, pembuatan kebijakan umum, penerapan kebijakan dan pengawasan pelaksanaan kebijakan. Fungsi politik lain, berupa komunikasi, sosialisasi dan rekrutmen politik.

Dalam sistem demokrasi, struktur politik terdapat supra dan infra struktur. Suprastruktur politik yang melakukan decision making, rule aplication, rule adjudication meliputi lembaga pelaksana fungsi pembuatan kebijakan umum (legislatif) yang menjalankan fungsi legislasi, pengawasan dan anggaran; lembaga pelaksana fungsi penerapan kebijakan (eksekutif) dan lembaga pelaksana fungsi pengawas pelaksana kebijakan (yudikatif); sedang infrastruktur politik yang mencakup LSM, Partai politik yang menjalankan fungsi edukasi, artikulasi, agregasi dan rekrutmen politik serta media massa melakukan interest articulate dan interest agregate.

Semua Berawal dari Demokrasi

Sistem politik yang dianut Indonesia adalah demokrasi. Demokrasi memang kini telah menjelma menjadi sebuah paham, atau bahkan semacam agama yang menglobal, yang nyaris tanpa koreksi. Secara teoretik, demokrasi adalah sistem politik pemerintahan yang mengikuti prinsip-prinsip kedaulatan rakyat, persamaan politik (political equality), konsultasi rakyat (popular consultation) dan pemerintahan mayoritas (majority rule) (Austin Ranney, 1982). Karena itu, gagasan dasar demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Dalam ungkapan lain, menurut The International Commision of Jurists sebagaimana dikutip oleh  Miriam Budiardjo (2008), perumusan yang paling umum mengenai sistem politik yang demokratis adalah suatu bentuk pemerintahan dimana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik diselenggarakan oleh warga negara melalui wakil-wakil yang dipilih oleh mereka dan yang bertanggung jawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yang bebas.

Demokrasi selalu dianggap sebagai tatanan atau sistem politik yang paling ideal. Dalam sistem demokrasi, rakyat diasumsikan akan benar-benar berdaulat dan mendapatkan seluruh aspirasinya. Dari gedung Parlemen, melalui para wakil rakyat akan terlahir undang-undang dan segala peraturan  yang berpihak pada rakyat. Sementara dari pihak pemerintah dengan presiden atau kepala daerah sebagai pemimpinnya, apalagi yang dipilih langsung oleh rakyat,  akan lahir keputusan dan kebijakan yang juga berpihak pada kepentingan rakyat. Sedang pihak yudikatif akan menjadi benteng penegak hukum yang kokoh. Dari sana, melalui proses politik yang demokratis, lantas dibayangkan bakal tercipta sebuah kehidupan masyarakat yang ideal. Masyarakat yang adil, damai, tenteram dan sejahtera.

Tapi itu semua hanyalah ilusi. Dalam tataran praktik gagasan ideal itu tidak pernah terwujud. Dalam negara demokrasi, yang sering berlaku adalah hukum besi oligarki, yakni ketika sekelompok penguasa (dan pengusaha) saling bekerjasama untuk menentukan kebijakan politik, sosial dan ekonomi negara tanpa harus menanyakan bagaimana aspirasi rakyat yang sebenarnya. Sistem politik dengan lembaga-lembaga politik, baik dalam supastruktur maupun infrastruktur memang ada, tapi proses-proses politik yang berjalan tidaklah sesuai dengan fungsi yang diharap. Akibatnya, aspirasi masyarakat terabaikan. Partai Politik dan wakil-wakil rakyat di Parlemen bekerja lebih untuk memenuhi aspirasinya sendiri. Begitu juga pihak eksekutif dan yudikatif. Kepentingan pragmatis kekuasaan mengalahkan nilai-nilai yang selama ini diteriakkan. Hukum yang diharap bisa menjadi panglima malah menjadi komoditas yang diperjualbelikan, sehingga  hukum lebih berpihak kepada kaum kaya.

Maka, tidak ada itu masyarakat yang adil, damai, tenteram dan sejahtera. Yang ada justru ketidakadilan yang  makin menganga. Kesejahteraan memang ada, tapi hanya untuk mereka yang kuasa. Dan bila ketidakadilan tidak ada, serta  kesengsaraan makin merajalela, bagaimana bisa didapat kedamaian dan ketentraman? Keduanya juga makin jauh dari adanya.

Lihatlah, bagaimana bisa diharap ada keadilan bila lembaga legislatif yang notabene adalah wakil rakyat justru banyak membuat undang-undang dan peraturan seperti UU Migas, UU Kelistrikan dan lainnya yang jelas-jelas merugikan atau mengancam kepentingan rakyat? Undang-undang itu semua sangat berbau neo-liberal. Intinya, undang-undang itu memperbesar peluang bisnis swasta dan memperkecil peran negara. Ambillah contoh UU Kelistrikan. Meski telah mengalami perbaikan dari UU  20/2002 yang dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), tapi UU Kelistrikan yang baru disahkan oleh DPR pada Sidang Pleno 8 September 2009  lalu  secara substansial masih tetap mengandung hal-hal pokok yang membuat UU 20/2002 dulu itu ditolak. Diantaranya pada Pasal 10 ayat 2 disebutkan bahwa usaha penyediaan tenaga listrik, meliputi pembangkitan, transmisi, distribusi, dan/atau penjualan tenaga listrik dapat dilakukan secara terintegrasi.

Kata dapat berarti tidak wajib. Dan ini berarti, peluang terjadinya unbundling atau pemecahan PLN secara vertikal yang selama ini ditolak keras oleh MK, SP PLN dan berbagai elemen masyarakat, masih terbuka untuk dilakukan di masa mendatang. Sementara pada Pasal 11 ayat 1 disebutkan bahwa usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) dapat dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara, Perusahaan Daerah, koperasi, swasta atau swadaya masyarakat.

Sekali lagi, kata dapat pada pasal itu berarti menunjukkan bahwa secara legal antara BUMN, BUMD, Koperasi dan BUMS (lokal dan asing) kedudukannya adalah sama. Padahal semestinya berbeda, mengingat penyediaan listrik adalah kewajiban negara sebagai bagian dari PSO (Public Service Obligation) dimana pelaksanaannya dilakukan oleh BUMN Kelistrikan. Dengan ketentuan pasal ini, dimungkinkan BUMS masuk. Dengan kata lain, pasal ini secara telak telah membuka keran privatisasi, khususnya pada BUMS Asing karena kenyataannya hanya swasta asing yang bermodal besar saja yang mampu masuk sektor kelistrikan. Bila ini terjadi, maka listrik benar-benar telah menjadi komoditas yang semata-mata diproduksi dan didistribusikan untuk kepentingan komersial, sedemikian sehingga PSO yang menjadi tugas negara semakin terabaikan.

Pages: 1 2

Batas

Hari ini entah yang keberapa kalinya aku memutar memori, mencoba menghadirkan sensasi-sensasi masa silam. Diusiaku yang tak lagi bisa disebut sebagai usia ABG (Anak Baru Gede), aku berharap menemukan perbedaan. Terutama setelah beralih status ke Batita alias di bawah usia tiga puluh tahun. I’m not talking about the physical here.

Malam itu, di dalam bis yang tak begitu sesak oleh penumpang, aku duduk tepat di mulut pintu. Posisi demikian memudahkanku untuk melepas mata liarku. Walaupun tak ada lagi pemandangan di luar sana yang patut untuk dibanggakan meski sekadar sebagai penyejuk mata.

Bersyukur meski tubuh tak lagi seenergik kala matahari memamerkan kemegahannya, mata ini masih sanggup mempertahankan kemelekannya. Jika tidak, aku pasti akan terus mengantongi predikat sebagai penumpang yang sering kebablasan-sesuatu yang sangat tidak kuinginkan.

Angin bertiup cukup kencang. Memuntahkan hawa dingin bercampur asap dari knalpot kendaraan yang seliweran di jalan-jalan.  Aku tidak mencium asap rokok sedari tadi. “Kejadian yang langka”, kataku dalam hati. Tapi, syukurlah setidaknya malam itu aku terhindar dari enam puluh persen efek tidak langsung sebagai perokok pasif-andai para penikmat rokok itu sadar.

Aku berusaha menikmati perjalananku sembari ku panggil satu persatu pengalaman masa lalu dari balik long term memory. Mereka berdesak. Tapi ku pilih beberapa yang kuinginkan saja. Ketika satu di antara mereka muncul, aku tersenyum. Mungkin saja saat kejadian itu, aku tak pernah berpikir akan menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu bila mengingatnya sekarang. Sebagaimana kamu mungkin tak pernah berpikir bahwa kejadian yang kamu alami saat ini akan membuat kamu tertawa di kemudian hari. Ya begitulah. Sikap spontan manusia memang terkadang menuai kelucuan bahkan mungkin penyesalan di waktu lampau.

Kutinggalkan yang satu lalu ku panggil lagi yang lain. Kali ini memori itu membuatku termenung. Kuhadapkan diriku saat ini dengan diriku yang dulu. Tiba-tiba aku merasa baru mengenal diriku sendiri. Sama saja aku merasa baru mengenal orang-orang di sekitarku. Teman-temanku, sahabat-sahabatku dan orang-orang yang menyayangiku-aku pun menyayangi mereka- masih terasa seperti makhluk asing bagiku. Aku tidak lebih mengenal mereka sama saja aku tidak lebih mengenal diriku. Apalagi mengetahui kekuranganku, yang menjadi salah satu alasan mengapa aku begitu sulit menjawab pertanyaan dalam psikotest tentang apa yang menjadi kekuranganku.

Kalaupun aku kelihatan mengetahui diriku dan teman-temanku, itu hanya sebagian dari sedikitnya pengetahuan yang diberikan Allah kepadaku. Aku boleh saja berhahaha dan berhihihi kala berjumpa dengan mereka, tapi mereka tidak lebih mengetahui tentang aku sebagaimana aku tidak lebih tahu tentang mereka. Aku pun tak perlu menunjukkan keterkejutanku saat kudapati seorang teman bersikap ‘tak selayaknya’ sebagai teman, sekalipun ia adalah seseorang yang aku sungguh-sungguh telah menjadikannya seorang sahabat dan kepadanya kuberikan kepercayaanku. Di sana, aku sungguh melihat betapa terbatasnya aku.

“Hmmm….”, aku menarik nafas sebentar. Kualihkan pandangan sekilas ke wajah beberapa wanita yang sedang berdiri di sebuah halte. Raut wajah mereka terlihat tak bersemangat, sangat kontras dengan pakaian rapih yang dikenakannya. Beberapa malah terlihat gelisah. Sesekali menatap jam di tangan lalu ke jalan secara bergantian.  Mereka adalah wanita-wanita yang menghabiskan dua belas jam lebih waktunya di luar rumah. “Mereka memiliki keluarga”, aku berpikir, yang bisa mungkin menjadi motivasi utama mereka merelakan diri jauh dan lama dari keluarga mereka. Sekiranya mereka bisa membuat diri mereka berlimpah rizqi, aku yakin mereka akan memilih sepanjang hari bersama anak-anaknya, mendidik mereka, memastikan asupan gizi dalam makanannya, menemaninya bermain, mengatur rumah tangga suaminya, dan segalanya tanpa perlu berpikir hendak makan apa besok.

Kenyataannya, tak satu pun manusia yang bisa melakukan itu.  Kerja keras bukanlah jalan yang pasti mendatangkan risqi. Karena banyak orang yang sudah banting badan hingga banting harga diri, tapi risqi tak jua menghampiri. Kenapa? Karena aku, kamu dan mereka bukanlah dewa sebagaimana dalam kepercayaan polytheisme. Juga bukan makhluk Allah yang diberikan mukjizat tersendiri yang dengannya kita mampu mengatur risqi kita. Aku, kamu dan mereka tak lebih dari makhluk yang  penuh keterbatasan yang dicipta dari unsur yang tak ada alasan sedikit pun untuk dibanggakan. Ya. Aku, kamu dan kita adalah makhluk yang difitrahkan dengan segala keterbatasan.

Aku masih mencoba merasakan sensasi dari masa-masa yang telah kulewati. Ahh, peristiwa demi peristiwa yang telah menemani perjalanan hidupku hanya semakin memberikan justifikasi bahwa betapa sedikitnya aku mengenal diriku sendiri. Ia malah menyibak satu persatu apa yang tidak aku ketahui. Sepertinya itu menjadi bahasa Allah dalam berkomunikasi dengan hambaNya, untuk menyampaikan pesan bahwa ‘inilah kamu’.

Jika keterbatasan itu adalah fitrah bagi manusia, lalu mengapa justru banyak manusia yang sombong? Merasa dirinya lebih pintar, merasa yang paling mampu, merasa paling tahu akan kebutuhan orang lain sehingga dengan percaya diri mengabaikan aturan dari sang Regulator Tertinggi, serta merasa paling berhak atas yang lain? Bukankah keterbatasan seharusnya membuat aku, kamu dan kita sadar akan kelemahan yang kita miliki. Bahwa tidak ada manusia yang paling benar, tidak ada manusia yang paling pintar (Albert Einstein sekalipun), tidak ada manusia yang lebih memahami kebutuhan dirinya sendiri apalagi orang lain. Bahwa aku, kamu dan kita tidak lebih tahu daripada orang lain dan tidak lebih berhak atas orang lain.

Keterbatasan bukan untuk diumbar tapi untuk disadari. Sehingga, meskipun terbatas, aku, kamu dan kita juga tak perlu merasa lebih menderita dari orang lain dan lebih sengsara daripada orang lain, sehingga perlu dikasihani. Lalu memaksa orang lain untuk mentransfer perhatiannya kepada kita. Aku, kamu dan kita pun bukan yang paling banyak ketiban masalah. Karena masalah diberikan pada diri setiap individu yang bernama manusia.

Sesungguhnya aku, kamu dan kita tidak pernah tahu apa pun hingga Allah-Dzat yang telah mengcreate manusia-memberitahukan kepada kita. Pengetahuan itu sendiri tidak dijamin oleh usia, setua apa pun dia. Bukan pula oleh tingginya gelar akademik, materi, kekuasaan serta jabatan yang aku, kamu dan kita miliki. Juga bukan oleh status sosial di masyarakat. Hanya kesadaran akan keterbatasan dirilah yang mampu mengantarkan aku, kamu dan kita menjadi sosok yang tahu tentang diri, orang lain dan segala yang ada di sekitar kita.

Tengadahkan kepala kamu untuk sejenak saja. Lihatlah langit yang kokoh di atas lalu resapi makna dari firmanNya (yang artinya):

“Langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami). Sesungguhnya Kami pun meluaskannya” (TQS 51: 47).

Langit menjadi bukti betapa kecilnya kita. Tak ada yang luar biasa dari tubuh kita. Lantas, pantaskah kita menyombongkan diri?

“Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal pada Hari Kiamat nanti, bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya, dan digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa saja yang mereka persekutukan” (TQS 39: 67).


Bookmark and Share

Taste

Bermula dari browsing kuliner di internet, lalu membaca testimoni beberapa orang di beberap situs kuliner, ketemulah saya dengan salah satu tempat kuliner bernama “Ayam Bakar Mas Mono”.

Ada yang menarik dari Ayam Bakar Mas Mono ini. Bukan rasa ayam bakarnya yang saya maksud-karena saya sendiri belum mencicipi- melainkan pemilik tempat makan tersebut. Pemilik tempat kuliner ini disebut-sebut sebagai juragan ayam bakar yang mengawali usahanya dengan menjadi seorang Office Boy. Perjalanan yang berliku ia lalui hingga berhasil memiliki lebih dari 13 outlet yang tersebar di Jakarta dengan omzet ratusan juta rupiah.

Selain memiliki kisah inspiratif, Ayam Bakar Mas Mono ini juga direkomendasikan banyak orang karena rasanya yang tidak mengecewakan alias top banget.

Katanya nih bumbu ayam bakarnya meresap ke dalam dagingnya yang sudah dimasak sedemikian rupa sehingga menjadi empuk. Hmm…kalau sudah dibilang begitu, makin penasaran aja ini lidah untuk mencobanya. Apalagi lokasinya di Jl. Tebet Raya, tidak begitu jauh dengan tempat tinggal saya.

Dan…..pencarian pun dimulai…..

Hari Sabtu kemarin rasa penasaran itu akhirnya tersalurkan. Setelah hampir salah masuk ke sebuah restoran lain-‘sebagai informasi, plang ‘Ayam Bakar Mas Mono’ dipasang tepat di depan outlet ayam bakar juga, hanya saja nama ayam bakarnya beda-akhirnya sampai juga saya ke TKP.

Tampak dari luar, pengunjung cukup ramai. Ohya, saat itu kan malam minggu, ya iyyalah ramai…hehe.. Begitu masuk, terlihat empat meja panjang berderet di sana. Spacenya sih tidak begitu luas. Sedikit lebih sempit jika dibandingkan dengan outlet A&W yang ada di Giant Mampang Prapatan. Saya mengambil tempat duduk tepat di depan meja kasir kemudian langsung memesan paket ayam bakar yang telah membuat saya penasaran itu. Harga per paketnya adalah Rp. 13.000. Kalo mau pakai tempe tahu bacem kudu nambah lagi, Rp. 2.000 untuk tempe bacem dan Rp. 1.500 untuk tahu bacem. Selain itu ada juga menu tambahan lainnya, seperti cah kangkung, capcay, dan lain-lain.

Sambil menunggu ayam bakar saya datang, saya mengamati salah satu sisi ruangan yang penuh dengan pajangan. Bukan foto pemiliknya yang dipajang di sana, melainkan liputan dari media massa yang digunting lalu diberi bingkai. Rata-rata berisi tentang kisah sukses sang pemilik outlet. Di antaranya dari tabloid Kuliner, Kontan, PeluangUsaha, Warta Kota, dan banyak lagi yang lainnya. Saya hitung, ada lebih dari dua puluh bingkai yang dipajang. Di dekat meja kasir sendiri ada pajangan yang berisi testimoni beberapa artis terkenal. Isinya begini, “99,9 % artis top mengatakan Ayam Bakar Mas Mono uenak!”.

Ohya, ada satu tulisan yang menarik perhatian saya. Tulisan itu dipajang dekat dengan wastafel, tidak jauh dari meja kasir. Mata saya pun tidak begitu sulit untuk membacanya. Tulisannya kira-kira begini: “Mengecewakan bos adalah bahaya, tapi mengecewakan konsumen adalah bahaya besar. Karena bos dipuji oleh konsumen”.
(Read more…>>>)

Pornotainment Dibalik Isu Video Porno Ariel-Luna Maya-Cut Tari

Setelah hampir sebulan lamanya sejak video porno yang melibatkan Artis Ariel-Luna Maya-Cut Tari tersebar, ketiga selebriti itu tetap melakukan aksi tutup mulut. Sejak itu, setiap hari seluruh media terus menerus membahas tanpa bosan perkembangan kasus tersebut.

Hari Kamis 1/7, setiba di kantor saya langsung membuka situs yahoo untuk memeriksa surel yang masuk -sebagaimana kebiasaan saya setiap hari. Yahoo memang selalu menjadi situs pertama yang saya buka setiap pagi. Di sana saya bisa membuka surel sambil melihat list berita terupdate di halaman depannya. Lebih praktis menurut saya, meskipun berita yang ditampilkan merupakan kutipan dari sumber media lain. Tapi tidak jarang juga saya mesti ke sumber aslinya jika saya butuh detail beritanya.

Ada yang berbeda di halaman depan yahoo hari itu. Kalau selama ini masyarakat sudah kesal dengan sikap Ariel-Luna Maya-Cut Tari yang tidak berani mengakui perbuatannya terkait kasus video porno mereka, hari itu seluruh masyarakat Indonesia mungkin bisa melihat/membaca/mendengar permintaan maaf yang disampaikan baik Cut Tari dan Luna Maya. Meskipun kemudian permintaan maaf itu ditepis oleh pengacara Cut Tari, Hotman Paris Hutapea sebagai bukan pengakuan bahwa benar Cut Tari-lah yang di dalam video tersebut. Nah lho?

Esoknya, Jumat 2/7 Cut Tari akhirnya mengaku bahwa dialah yang beradegan mesum dengan Ariel, sebagaimana yang terlihat dalam video itu.

…media seperti ‘sengaja’ melakukan pornotainment di balik isu video porno Ariel. Yaitu menjadikan video porno tersebut sebagai hiburan bagi masyarakat….

Meski pengakuan sudah dipegang-kecuali Ariel dan Luna Maya- Perdebatan tentang kasus di atas masih terus bergulir. Baik yang pro maupun kontra, keduanya memiliki alasannya masing-masing. Namun, terlepas dari perdebatan itu, satu hal yang seringkali diabaikan adalah bahwa pornografi telah menjadi bisnis besar. Bisnis yang meraup multimiliar dollar. Tentunya karena produk-produk pornografi adalah komoditas industri yang berdiri dibalik modal besar perusahaan multinasional.

Sejak pornografi berubah dari sesuatu yang tabu menjadi tidak tabu, batas-batas moral tergilas bersamaan dengan hilangnya ketabuan pornografi. Anda bisa saksikan dalam hampir sebulan ini, isu video porno artis di atas terus dikupas. Bahkan, media seperti ‘sengaja’ melakukan pornotainment di balik isu video porno Ariel. Yaitu menjadikan video porno tersebut sebagai hiburan bagi masyarakat. Sudahlah masyarakat dirundung masalah dengan biaya hidup yang semakin menghimpit, pornotainment tampil sebagai penghibur dengan bahasa yang santai dan fun. Hingga menontonnya pun seolah beban runtuh satu persatu (iya nggak sih?).

…Ariel memiliki 32 video mesum yang tersebar di situs-situs luar negeri. Di tambah lagi, polisi telah menemukan di dalam laptop yang disita dari Ariel, puluhan wanita serta empat pria yang beradegan mesum dengannya, bisa dibayangkan, membahas kasus ini tidak akan pernah ada habis-habisnya.

Barangkali itu juga yang menjadi alasan mengapa kasus tersebut tak pernah berhenti dibahas oleh media-media di Tanah Air. Apalagi pelaku dalam video tersebut adalah artis yang memiliki penggemar yang tersebar di seluruh belahan Indonesia, sehingga akan selalu menarik untuk dibahas (baca: media mengejar rating).

Andai saja benar tentang isu yang banyak dibahas di beberapa mailing list (milis) saat ini bahwa Ariel memiliki 32 video mesum yang tersebar di situs-situs luar negeri. Di tambah lagi, polisi telah menemukan di dalam laptop yang disita dari Ariel, puluhan wanita serta empat pria yang beradegan mesum dengannya, bisa dibayangkan, membahas kasus ini tidak akan pernah ada habis-habisnya. Yang untung siapa? Siapa lagi jika bukan media!

(Read More…>>>)

Self Awareness

Dua hari yang lalu saya terlibat diskusi dengan salah seorang kawan. Saya baru mengenalnya belum lama ini, tetapi begitu pembicaraan kami menyinggung topik tentang Obama, kami berdua langsung nyambung. Saya bercerita tentang beberapa komentar seputar penundaan kedatangan Barrack H. Obama ke Indonesia yang sedianya tanggal 22 Maret, direschedule menjadi Juni 2010. Di salah satu harian ibukota yang saya baca versi online-nya, bertebaran komentar-komentar bernada miring yang dialamatkan pada mereka yang menolak kedatangan Obama. Tidak hanya di dunia maya, di dunia nyata pun seperti di pantry-pantry kantor saat jam makan siang, komentar dengan nada yang sama kerap terdengar.

Saya dan teman saya terus berdiskusi panjang lebar, sampai akhirnya kami berhenti pada pertanyaan, “Kenapa ya proses penyambutan Obama di Indonesia terasa spesial jika dibandingkan dengan tamu-tamu lain, ditambah lagi beberapa kalangan masyarakat sangat antusias?”. Anda tentu melihat bagaimana persiapan berlebih-lebihan yang dilakukan pemerintah Indonesia menjelang kedatangan Obama, yang tidak dilakukan pada tamu-tamu yang lain (kecuali George W. Bush). Kami sama-sama mencoba mencari alasannya. Versi pemerintahnya sebagaimana yang disampaikan oleh Menkominfo Tifatul Sembiring bahwa banyak kepentingan Indonesia kepada negara adidaya itu. Yang lain mengatakan, kedatangan Obama akan membuka pintu dialog antara Islam dan Barat yang ujung-ujungnya akan berdampak positif pada pencitraan islam itu sendiri. Lain-lainnya kami anggap sebagai alasan pelengkap saja. Tapi bukan jawaban itu yang kami inginkan. Kami berusaha mencari alasan mendasarnya apa.

Tiba-tiba saya teringat sebuah istilah yang pernah saya baca di sebuah harian cetak, yaitu self-awareness atau kesadaran diri. Apa hubungannya? Kalau anda bertanya begitu berarti anda sama dengan teman saya yang juga menanyakan hal yang sama :d
Tentu saja ada hubungannya. Dan jika anda ingin mengetahui hubungannya apa, baca terus tulisan ini sampai tuntas tas! *maksa mode:on*

Apa itu Self Awareness?

Self-awarenesss adalah kemampuan melihat pola pikir, perilaku kita yang berada di ketidaksadaran dan mengangkatnya ke alam sadar. Contoh, suatu ketika saya pernah didera rasa bersalah karena tanpa sengaja telah menyakiti seorang teman dengan kata-kata yang tidak pantas. Beberapa saat kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri “siapa saya? Kok saya bisa berkata seperti itu?”. Pada akhirnya saya menyadari bahwa saya bukanlah siapa-siapa, dia dan saya sama-sama manusia yang satu terhadap yang lainnya tidak lebih baik atau lebih buruk. Kalau dalam spirit islam dikatakan, yang membedakannya hanyalah ketakwaannya kepada Allah SWT.

Kesadaran terhadap diri baik sebagai individu maupun bangsa akan membantu kita mengambil sikap yang tepat sehingga bisa melangkah dengan gagah bahkan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Pemimpin Venezuela, Hugo Chavez salah satu contohnya. Kesadaran terhadap kemampuan bangsanya telah membuat ia mengambil sikap yang terbilang berani terutama ketika berhadapan dengan perusahaan-perusahaan AS. Ketika bangsa-bangsa lain seperti Indonesia berlomba-lomba melakukan swastanisasi terhadap perusahaan-perusahaan milik negara, ia dengan berani melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang masuk ke negaranya. Pada kesempatan lain, ia bahkan berani mengusir duta besar AS untuk Venezuela karena dianggap telah berkomplot dengan partai oposisi untuk menjatuhkannya. Self-awareness ini yang tidak dimiliki bangsa kita baik pemimpinnya maupun generasi-generasi penerus bangsa. Sehingga wajar jika bangsa kita menjadi sapi perah negara-negara lain. Kita menjadi bangsa yang tergantung, sehingga wajar jika banyak rakyatnya yang mati gantung diri.

Bangsa kita memang pernah mengalami era penjajahan selama 350 tahun lebih di bawah Belanda. Tentu itu bukan sebuah masa lalu yang indah. Artinya dalam tempo selama itu, setiap bayi yang lahir di masa tersebut sudah mengemban status sebagai kaum terjajah, tanpa peduli dengan segala potensi yang dimilikinya. Potensi yang saya maksud di sini adalah bahwa sebelum era penjajahan tersebut, anda tentu ingat bahwa bangsa ini adalah bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi. Pasca keruntuhan Majapahit, Bangsa kita dipimpin oleh kesultanan-kesultanan yang tersebar dari Samudera Pasai hingga Sulawesi. Islam menjadi dasar kehidupan masyarakatnya. Nilai-nilai kemanusiaan dijunjung tinggi, hak-hak setiap individu dalam masyarakat sangat dihormati.

Tetapi, kondisi itu berbalik 180 derajat begitu Penjajah datang menjarah setiap jengkal tanah Indonesia. Bangsa ini menjadi lemah. Self-awarenessnya hilang. Ibarat seekor elang yang terlahir di komunitas ayam, karena lahir dan tumbuh di lingkungan ayam, sang elang merasa yakin bahwa dia seekor ayam yang tidak ada bedanya dengan anak-anak ayam yang lain. Ia berkokok dan berjalan layaknya seekor ayam. Ia tidak pernah mengepakkan sayapnya. Tatkala suatu hari dia melihat elang terbang tinggi dengan gagahnya, ia hanya bisa berdecak kagum dan ternganga sambil berandai-andai sekiranya ia bisa terbang seperti itu.

Demikian pula dengan kita, karena terlahir di tanah jajahan, kita jadi lupa kalau dulunya kita pernah memiliki peradaban yang tinggi. Kita tidak sadar kalau kita juga mempunyai sayap yang bisa terbang tinggi dan hanya bisa ternganga saat melihat kekuatan yang dimiliki negara yang menjajah kita. Ketidaksadaran diri tersebut akhirnya mengantarkan kita pada sikap minder dan inferior. Bangsa yang tidak memiliki self-awareness akan sulit mengidentifikasi kelemahan dan kekuatannya. Ia akan cenderung mengekor dan tidak bisa menjadi pribadi/bangsa yang make a difference.

Hal tersebut lalu diperparah dengan memutar ulang sejarah melalui mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah bahwa kita pernah menjadi budak penjajah. Jika sebatas memberikan informasi saya pikir tidak jadi masalah. Tapi jika informasi itu sangat detail, bahkan tahun peristiwa yang berhubungan dengan VOC pun ‘dipaksa’ untuk dihafalkan, sangat memalukan bahkan berbahaya menurut saya. Terlebih jika sebagian dari rentetan sejarah itu kebenarannya disangsikan. Apalagi jika diberikan pada usia SD. Saya yakin, tidak ada orang yang senang disebut bekas korban perkosaan. Kenapa? Karena itu adalah aib. Menanamkan aib masa lalu terhadap anak akan menghasilkan impact yang dalam terhadap mindset dan perilaku anak tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang Psikolog Anak, Wiley Rasbury, semakin dini kita menanamkan nilai-nilai positif pada anak, semakin mengakar kualitas diri positif pada anak tersebut, akibatnya ia akan mampu menghadapi cobaan hidup apapun. Sebaliknya, semakin dini kita menanamkan nilai-nilai negatif pada anak, maka semakin mengakar kualitas diri negatif pada anak itu.

Kalaupun asumsinya adalah hal itu dilakukan dengan spirit agar generasi bangsa ini mengambil pelajaran dari sejarah itu dan ujung-ujungnya membenci segala bentuk penjajahan di muka bumi, tetapi mengapa beberapa peninggalan penjajah masih dilestarikan? Undang-Undang yang dipakai pemerintah saat ini, beberapa di antaranya masih merupakan peninggalan Belanda. Artinya, tidak matching antara ekspektasi dengan aksi.

Pages: 1 2

::Fly::

Pukul dua belas lebih empat puluh lima menit waktu Bandara Soekarno-Hatta. Saya baru tiba di loket check in sebuah maskapai penerbangan.

“Maaf, mbak, pesawat saya berangkat jam satu”, kata saya tanpa ba-bi-bu dengan nafas tersengal-sengal sambil buru-buru menyodorkan selembar print out tiket kepada salah seorang customer service (CS).
“Maaf, ini udah nggak bisa, mbak!”
“Blek! ”, seperti dikomando, detak jantung saya langsung memacu sekencang-kencangnya.

“Masak nggak bisa sih, mba? Plis dong gimana caranya biar bisa! ”, saya memaksa sambil memelas.
“Saat ini pesawat sudah closing door. Mbak coba ke loket yang di depan itu”, CS itu mengarahkan telunjuknya ke sebuah loket tak jauh dari tempat saya berdiri.

Saya bergegas menuju ke loket yang dimaksud.
“Permisi, pesawat jam satu, mbak”, kata saya sejurus kemudian.
“Mohon maaf, sudah nggak bisa. Mbak check in-nya telat. Maksimal check in itu adalah 30 menit sebelum boarding pass”, CS itu menjelaskan.
“Saya tau. Tapi, saya kan masih ada sisa waktu 10 menit untuk menuju pesawat”, saya mengelak.
CS itu ngotot. Saya mengatur nafas.
“Jadi saya tetep nggak bisa berangkat hari ini, gitu, mbak?”
“Kami beri dua pilihan. Jadwal mbak kami reschedule menjadi besok. Atau kalau mbak mau berangkat hari ini, mbak bisa pilih maskapai yang lain. Kalo mbak memilih yang terakhir, uangnya akan kami refund satu bulan berikutnya setelah dipotong sebesar Rp. 378 ribu”, dia menjelaskan lagi. Saya berpikir sebentar.
“Kalo saya pilih direschedule, gimana?”, tanya saya kemudian.
“Baik. Mbak berarti harus menambah uang sebesar Rp. 648 ribu”, jawab CS itu datar.
“How come?! Nggak salah tuh? Banyak beneerr……!”

Setelah dijelaskan, saya baru tahu kalau angka 648 ribu itu diambil dari harga tiket besoknya dikurangi harga tiket saya hari ini. Serta ditambah dengan biaya keterlambatan sebesar Rp. 378 ribu. Busyet dah….!

Saya menjauh dari loket. Sedang saya masih memutar otak apakah saya akan mengambil pilihan pertama atau kedua, terdengar bentakan suara laki-laki. Saya memutar tubuh 90 derajat. Seorang Bapak terlihat mengarahkan telunjuknya ke CS yang baru saja saya temui tadi. Saya mendekat. Rupanya Bapak itu senasib dengan saya. Tapi sang Bapak berhasil membujuk atau tepatnya memaksa si CS untuk mengurus keberangkatannya hari itu juga. Dalam hati, saya merajuk. Saya merasa telah menjadi korban diskriminasi CS-CS itu. Mentang-mentang saya nggak segalak Bapak itu.

Tanpa pikir panjang, saya mendorong trolly saya menuju ruang duty manage. Ada tiga petugas di sana. satu orang laki-laki dan dua orang perempuan. Saya ceritakan tentang kondisi saya. Pun tentang Bapak di luar sana. Jawaban yang saya dapatkan tidak jauh berbeda dengan CS sebelumnya. Saya ingin marah tapi saya tahan. Sepertinya memang sudah tidak ada jalan untuk saya berangkat hari itu. Kecewa? Jangan tanya lagi

(Read More >>>)

Negotiation

Saya memiliki sebuah pengalaman menarik. Suatu waktu, saya sedang menawarkan kaus/alas kaki impor dagangan saya kepada seorang kawan. Tiba-tiba anak dari teman saya yang lain yang berusia sekitar 6 tahun celetuk entah iseng atau serius, “harganya berapa, Tante?”. “Lima puluh ribu”, jawab saya singkat. “Boleh kurang nggak? Lima ratus aja mau ya?”, anak itu menawar. “Hah?!”, saya dan teman saya saling berpandangan lalu spontan tertawa. “Kalo gitu seribu deh, atau sepuluh ribu, atau dua puluh ribu?”, sang anak masih terus menawar. Saya terus terang kaget, bukan karena melihat keluguan anak itu melainkan karena keberaniannya menawar dengan harga yang jauh dari setengah harga dasar kaus kaki tersebut. Dalam teori negosiasi, sang anak bisa dikatakan telah membuka zona negosiasi yang lebar antara penjual dan pembeli dalam rangka memperoleh harga yang sesuai dengan nilai sasarannya. Dengan cara itu penjual biasanya akan menurunkan nilai/harga dasarnya hingga antara penjual dan pembeli bertemu pada satu titik yang diharapkan menjadi win-win solution antara keduanya. Biasanya titik temu itu terjadi pada nilai yang mendekati nilai/harga sasaran dari pembeli.

Karena dia masih kanak-kanak saya jadi tidak begitu menanggapi tawarannya dengan serius. Saya hanya berkata kepadanya bahwa saya akan menerima tawarannya tapi nanti setelah dia dewasa. Tentu saja karena kaus kaki itu tidak sesuai untuk ukuran kakinya saat itu. Kepada ibunya saya katakan dengan setengah bercanda, “wah mbak, anaknya sepertinya punya bakat jadi negotiator ulung nih.”

Sekiranya anak teman saya pada cerita di atas serius melakukan negosiasi, saya juga tidak akan segera menanggapinya. Karena menurut saya anak itu berada dalam posisi yang tidak independen dalam mengambil keputusan terhadap harga yang ia tawarkan, sehingga mau tidak mau sang Ibu harus terlibat. Dalam kasus pembelian yang melibatkan orang dewasa, pembeli-pembeli non independen seperti ini bisa kita lihat misalnya seorang istri yang menawar harga barang antik di sebuah toko tapi keputusan pembelian ada di pihak suami. Atau seorang gadis yang ingin membeli mobil mercy di salah satu showroom tetapi keputusan pembelian bergantung pada Ayahnya.

Negosiator-negosiator non independen ini sebenarnya tidak hanya kita temukan dalam aktivitas jual beli saja. Karena negosiasi juga terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya antara seorang wanita dengan seorang laki-laki yang hendak melamarnya. Meskipun wanita itu telah menerima lamaran sang pria, tetapi keputusan itu tentu saja belum final karena sang wanita terlebih dahulu harus meminta persetujuan dari kedua orangtuanya sebagai pihak pengambil keputusan akhir. Biasanya orang tua memiliki nilai sasaran yang akan menentukan apakah lamaran pria tersebut akan diterima atau tidak. Misalnya kepribadiannya bagaimana, agamanya apa, pendidikannya, pekerjaannya, dari keturunan apa, dan lain sebagainya. Informasi-informasi itu bisa ditanyakan langsung pada pria yang melamar atau menanyakannya pada sumber-sumber yang terpercaya.

Sementara itu sang pria akan melakukan presentasi untuk menggambarkan sosok dirinya di hadapan orang tua si wanita, tentu saja dengan harapan akan menarik hati sang ortu. Bila pun si pria tidak bisa mencapai salah satu atau beberapa nilai sasaran yang dimiliki orang tua tersebut, ia akan berusaha meyakinkannya bahwa ia memiliki konsesi-konsesi lain yang mungkin tidak dimiliki pria lainnya, misalnya ia sangat bertanggung jawab, memiliki pemahaman terhadap agama yang bagus (bukan ingin sombong) sehingga kelak dia tidak akan mungkin selingkuh atau melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), mandiri sehingga setelah menikahi putrinya ia tidak akan menggantungkan hidupnya pada orang tua serta konsesi-konsesi lainnya.

Namun, seringkali kondisi di atas mengalami jalan buntu atau dalam istilah negosiasinya disebut dead lock. Jika sudah begitu kehadiran pihak ketiga sangat dibutuhkan untuk mencapai win-win solution. Dalam kondisi ini juga sangat dituntut sang wanita-dalam posisinya sebagai anak-untuk bisa mendobrak (tentu dengan cara yang bijaksana) prinsip-prinsip yang dimiliki oleh orang tuanya, terutama yang menjadi sumber penghambat. Hanya saja, kemampuan setiap wanita dalam hal ini memiliki level yang berbeda-beda. Sehingga pendekatan yang diambil pun bisa berbeda-beda. Satu hal yang harus disadari bahwa meski dia bukan pengambil keputusan tetapi dia justru merupakan tokoh kunci dalam masalah ini.

Setelah semua cara dilakukan, tetapi kedua belah pihak belum juga memiliki titik temu, maka solusi yang dihasilkan terpaksa adalah lose-lose. Sang Pria gagal mendapatkan pujaan hatinya, orang tua pun gagal mendapatkan penggenap agama untuk putrinya. Kecewa? Itu pasti. Tapi kalau pun berhasil, dead lock biasanya akan kembali terjadi antara orang tua dari pihak laki-laki dengan wanita yang dilamar. Persoalannya mirip dengan di atas, seperti faktor nilai sasaran yang tidak terpenuhi pada diri wanita tersebut.

*****
Saya sangat menyadari bahwa untuk mencapai win-win solution dalam kasus di atas bukanlah sesuatu yang mudah, dibutuhkan usaha yang keras. Hanya saja bagi semua pihak yang terlibat, penting untuk mengedepankan paradigma bahwa mewujudkan win-win solution itu adalah dalam rangka melaksanakan perintah Allah. Sehingga spirit yang dibangun pun juga adalah spirit ibadah bukan spirit duniawi.

:::VIOLIN:::

Di suatu siang, saya sedang searching video klip artis mancanegara via youtube. Tiba-tiba saya menemukan video iklan shampo Pentene. Bukan versi Indonesia sih tapi versi Thailand. Ceritanya, ada dua gadis remaja yang sangat cinta akan musik. Keduanya memutuskan untuk mengikuti kontes musik klasik (classical music contest) di kotanya. Gadis pertama memainkan alat musik biola (tokoh utama), yang lainnya memainkan piano (tokoh antagonis). Karena merupakan kolaborasi dua alat musik, maka mereka berlatih secara bersama-sama. Tapi, permainan biola sang teman sepertinya tidak mengalami kemajuan. Teman yang satu pun kesal dan memutuskan untuk bermain sendiri. Merasa diabaikan, gadis pemain biola ini lalu belajar keras. Dan berhasil. Ya, dia berhasil menjadi the winner pada kontes itu, meskipun biolanya harus dihancurkan oleh suruhan sang teman-sang teman tak ingin ia tampil dalam kontes itu. Ia mempersembahkan penampilan terbaiknya kepada seluruh penonton. Hingga tak satu penonton pun dibuat berkutik olehnya.

Karena ini adalah iklan shampo, maka adegan rambut melambai-lambai bak nyiur di pantai pun tak kan dilewatkan. Karena di situlah pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Bahwa dengan Pentene, you can shine. Shine rambutmu, shine pula impianmu.

Video berdurasi 4 menit 2 detik itu cukup kreatif menurut saya. Tentunya, terlepas dari commercial motivation yang ada di dalamnya. Yang paling penting menurut saya adalah karena ia telah membangkitkan salah satu impian saya yang hingga detik ini belum terwujud (kasian deh!).

Sejak dulu, saya ingin sekali bisa bermain biola (violin). Keinginan itu belum juga hilang meski sampai saat ini. Cuma anehnya, saya tidak pernah belajar bermain biola itu sendiri, hehe.. Kecuali itu, saya juga belajar bermain gitar. Abang saya yang mengajarkannya meski tak berlanjut lama. Bagi abang saya, saya terlalu cerewet untuk diajari. Bertanya melulu, katanya. Dasar tipe abang saya yang cuek, kalau ditanya, ia selalu diam. Bukan karena tidak mendengar pertanyaan saya. Tapi karena ia malas untuk menjawab. Meski sekedar berkata, “sorry?” atau “what?” atau mungkin “sebentar ya!”. Sikapnya semakin hari semakin membuat saya kesal. Dia lebih suka mengajari temannya daripada adik sendiri. “Huh!”, keluh saya saat itu. Padahal jari-jemari saya sudah bengkak akibat menekan senar gitar. Merasa diabaikan, saya pun akhirnya berhenti belajar. Sikap saya ini Beda sekali dengan apa yang dikatakan Pak Harfan dan Bu Muslimah-dua tokoh dalam Tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata- bahwa kita jangan pernah gentar pada kesulitan apa pun dalam menggapai suatu impian.

Keinginan bisa bermain biola pun tak menuai jalan. Sering sekali saya terpana melihat orang-orang yang mahir memainkan lagu dengan biolanya. Sungguh menakjubkan menurut saya. Saya terpana begitu telinga saya menyentuh alunannya. Violis tanah air yang saya kagumi adalah Idris Sardi. Gesekan biolanya unik menurut saya. Nicolo Paganini seorang virtuoso biola asal Italia juga telah menarik hati saya. Bicara soal Paganini, saya jadi teringat dengan kehebatannya dalam memainkan biola meski dengan satu senar. Luar biasa! Tapi lagi-lagi saya hanya bisa menyimpan rasa takjub itu dalam hati. Saya pernah berniat untuk mengambil les biola. Sayang, di kota saya saat itu belum ada yang menyediakan kursus alat musik. Lagipula, orangtua saya pasti tidak akan mengijinkan. Maklum, waktu itu orang tua saya punya prioritas yang lain untuk saya. Kecuali itu, biayanya pasti mahal.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai sibuk dengan rutinitas saya. Keinginan itu pun perlahan terlupakan. Tapi, tidak demikian untuk hari ini. Keinginan itu terusik lagi, hehe. Mungkin suatu saat nanti impian itu akan terwujud. Dimulai dengan keseriusan saya tentunya. Layaknya Ikal dan Arai-dua tokoh cerita dalam novel ‘Endensor’nya Andrea Hirata-yang akhirnya bisa mewujudkan mimpi masa kecil mereka yaitu berkeliling Eropa. Kapan? Mungkin saat itu saya sudah dianggap terlalu tua ketika mewujudkannya. Tapi, bukankah ini bukan masalah terlalu tua atau terlalu muda, melainkan keinginan untuk terus bermimpi, dan keberanian untuk menyadarinya. Bukankah pula dengan membayangkannya, membawanya dalam tidur, berpikir terus menerus mengenainya, membicarakannya, merencanakannya, hal ini akan membawa kita lebih dekat dalam mewujudkan mimpi-mimpi kita? Seperti kata Arai dalam novel yang sama, bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.

Kemampuan untuk bermimpi terus adalah salah satu kualitas yang baik dari umat manusia yang tidak dimiliki oleh spesies mana pun di dunia ini. Berawal dari sebuah mimpi, Jepang mengalami kebangkitan ekonomi di era Kaisar Meiji dan menggeser negara-negara asal revolusi industri yaitu Inggris dan Amerika. Bermula dari mimpi pula, Joan of Arc-seorang gadis remaja berusia 18 tahun-berhasil mengusir pasukan Inggris dari Perancis dan memberikan kemenangan untuk negaranya.

So, saya mungkin akan terus bermimpi, dan bermimpi …. Kemudian, maju dan do it!

KIRANA

Sebuah drama bertajuk ‘Kirana’ dipentaskan di panggung teater kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta beberapa waktu lalu. Drama ini diadaptasi dari cerpen bertajuk sama dari kumpulan buku 9 dari Nadira karya Leila S. Chudori. Dian Sastro memerankan tokoh utama Nadira dengan sangat apik di bawah Sutradara Dramawan Arswendy Nasution

Dalam kisah itu, Nadira adalah istri yang seringkali merasa kesal dengan sikap suaminya. Kebiasaan suami Nadira yang hobi berbohong, membuat hidup Nadira semakin tidak nyaman. Sang suami pun kerap menuduh Nadira berselingkuh, meskipun diakui Nadira itu tidak benar. Akhirnya, keputusan cerai pun harus diambil. “Bila ikatan perkawinan tak lagi bisa dipertahankan, tak ada salahnya bercerai”, demikian kata Nadira.

Cerita di atas tak ubahnya dengan cerita pasangan selebriti di negeri ini. Nikah-cerai seolah menjadi trend. Ada Dewi Persik dan Aldi, Maia Ratu dan Ahmad Dhani, Vira Yuniar dan Teuku Ryan. Yang terakhir adalah Krisdayanti (KD) dan Anang Hermansyah. Ikatan perkawinan sepertinya tidak lagi dianggap sebagai ikatan yang sakral.

Saya yakin, setiap keputusan perceraian yang diambil oleh suami maupun istri, sudah tentu dengan pertimbangan yang matang. Bukan sesuatu yang mudah untuk merobohkan ikatan perkawinan yang dibangun selama bertahun-tahun. Saya lalu bertanya, lantas mengapa pada setiap perselisihan dalam rumah tangga, selalu berujung pada kata ‘cerai’? Bagaimana mengokohkan bangunan keluarga agar tidak mudah diterpa angin, sekencang apa pun?

Membangun Landasan Keluarga yang Kokoh

Kuat tidaknya sebuah bangunan, sangat bergantung pada pondasinya. Seberapa kuat sebuah pondasi menyokong sebuah bangunan, tergantung pada bahan-bahan dasar pondasi itu. Keluarga pun demikian. Keluarga yang kokoh dibangun oleh pondasi yang kokoh. Apa pondasinya? Tidak lain dan tidak bukan adalah visi dan misi. Di sanalah suami dan istri menuangkan arah pandang mereka tentang sebuah keluarga.

Menikah adalah untuk mencapai kebahagiaan. Sebagaimana Allah sampaikan dalam surat Ar-Rum:21, “Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang”.
Anda pastinya sudah sangat mengenal surat itu. Tentu saja karena surat itu telah menjadi kalimat wajib yang pantang dilupa untuk dicantumkan dalam setiap undangan pernikahan. Saya sendiri belum tahu bagaimana sejarah pencatutan surat tersebut pertama kali 😉 (Kalau menikah nanti, saya memilih surat yang lain saja ah, biar nggak dibilang plagiat, hehehe…).

Lalu, apa visi dalam membangun sebuah keluarga? Yaitu mewujudkan keluarga yang tentram dan penuh kasih sayang. Tentram karena diridhoi Allah SWT. Suami, istri dan anak-anak hidup semata-mata untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya secara totalitas. Interaksi di antara suami dan istri dibangun bukan dalam rangka meraih kenikmatan fisik, melainkan untuk mencapai keridhoan Allah. Tidak ada lagi sikap saling curiga, mau menang sendiri, arogan, dan lain-lain. Istri melayani suami tidak semata karena kasih sayang, tetapi demi mendapatkan ridho-Nya. Suami mencari nafkah bukan semata mencari uang, tetapi dalam rangka melaksanakan perintah Allah.

Berbeda halnya jika sebuah keluarga dibangun berdasarkan harapan menumpuk materi sebanyak-banyaknya, suami yang tampan, istri yang cantik, mobil mewah dan kenikmatan-kenikmatan fisik lainnya, hanya akan menghasilkan suami yang stress. Dalam kondisi begitu, suami dengan mudahnya bisa mencari perempuan lain yang lebih memikat hatinya sebagai pelampiasan. Pada saat yang bersamaan, istri yang kesepian akan berusaha mencari tempat bersandar atas beban hidup yang sedang ia tanggung. Anak-anak sudah bisa ditebak bagaimana nasibnya kemudian. Karena loss of control, mereka pun kehilangan arah hidup. Rapuh, iya. Free sex, ngedrug, dan anarkisme pun menjadi teman bermain mereka. Lahirnya generasi tangguh harapan bangsa tinggallah mimpi.

***
Adapun Misi sebuah keluarga adalah pertama, fungsi internal. Yaitu mencetak individu baik suami, istri dan anak-anak menjadi berkepribadian islam. Standar berpikirnya adalah aqidah islam. Dengan demikian, setiap terjadi perselisihan antara anggota keluarga, standar yang digunakan jelas, yakni aqidah islam. Setiap persoalan diselesaikan dengan musyawarah dan penuh ungkapan kasih. Jika suami melakukan kesalahan, istri akan mengingatkannya dengan penuh rasa hormat. Sebaliknya, jika istri melakukan kesalahan, seorang suami tidak serta merta marah, menghujat, mencela dan menghina. Dengan lembut dan penuh kasih ia akan mengarahkan sang istri. Kedua, fungsi eksternal. Yaitu amar ma’ruf nahiy mungkar. Tanggung jawab suami, istri dan anak-anak tidak terbatas pada internal keluarga saja. Tetapi juga terhadap terbangunnya masyarakat yang bahagia dan sejahtera dalam ridho Allah SWT.

Suami bertanggung jawab mendidik dan membimbing istri dan anak-anaknya. Bukan sekedar sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka, tetapi karena perintah Allah. Meskipun kewajiban menafkahi keluarga ada di pundak suami, membuat ia selalu berhati-hati setiap kali memilih pekerjaan. Karena tidak semua aktivitas yang menghasilkan uang, boleh dilakukan. Ada pekerjaan yang halal, ada pula yang haram. Penghasilan dari pekerjaan yang halal akan membawa barokah bagi keluarga. Sebaliknya, yang haram akan membawa mafsadat (kerusakan) dan-sudah pasti-laknat Allah.

Sulit? Iya. Apalagi di jaman di mana antara yang halal dan haram seringkali menjadi bias. Tetapi, dengan perhitungan yang teliti serta mengikutkan kehidupan setelah maut. Bahwa siksa Allah sangat pedih bagi siapa pun yang melanggar aturanNya. Maka seorang suami akan senantiasa berpegang pada rambu-rambu perintahNya. Segala pekerjaan yang terkait dengan riba akan dijauhi. Ia senantiasa ingat bahwa Allah melaknat orang yang memberikan riba, penerimanya, para saksi dan pencatatnya. Demikian pula pekerjaan yang terkait dengan industri pornografi dan pornoaksi, perjudian, miras dan narkoba.

Keyakinan bahwa Allah Yang Menentukan rizki akan membawanya pada sikap konsisten menjauhi yang haram meskipun sulit. Tidak lantas menganggap bahwa dunia baginya terasa sempit lantaran selalu memilah-milah pekerjaan dengan mengambil yang halal saja. Dia yakin bahwa rizki tidak akan bertambah banyak dengan menghalalkan segala cara.

Keinginan dan kebutuhan keluarga yang meningkat, ditambah godaan iklan di tivi-tivi yang memikat hati, tidak membuatnya latah dalam mengambil setiap keputusan. Kredit pemilikan rumah, leasing mobil atau motor, akan selalu dipertimbangkan dan diteliti dalam rangka menjauhi unsur keharaman yakni riba yang terdapat pada aktivitas-aktivitas tersebut. Ketika ia gagal meraih apa yang diinginkannya, ia pun tidak akan depresi akibat memaksakan diri dalam dunia imaji idealnya.

Reference:
“Membangun Keluarga Dambaan”, Ridha Salamah dan Abu Zaid

Post Navigation