Catatan Asami

Berpikir untuk bergerak……

Archive for the tag “Perempuan”

Ketika Curhat Berujung Petaka

Prita 1

Memiliki anak yang sehat dan lucu adalah idaman Setiap ibu. Di saat tubuh lelah, seorang anak hadir menghilangkan penat di kepala. Syaraf pembangkit semangat seorang ibu seketika terpacu begitu melihat wajah kecil dan lucu sang anak. Suaranya memancarkan energi yang bisa menentramkan hati. Ya, barangkali ini hanya sebagian gambaran yang dirasakan oleh kebanyakan kaum ibu.

Namun, hal itu tentu saja berbeda dengan Prita Mulyasari, seorang ibu muda yang memiliki dua orang balita. Meski sedang lucu-lucunya, Prita tidak bisa-atau tepatnya tidak kuasa- menikmati kebersamaan bersama kedua balitanya itu. Prita harus rela meninggalkan mereka karena harus mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Tangerang. Tragedi ini bermula dari keluhan Prita yang dilayangkan ke suara pembaca detik.com (baca isi surat Prita) pada tanggal 30 Agustus 2008 tepatnya pukul 11:17 WIB.
(baca entri selengkapnya…)

Fatima Sang Mantan Dugemer

Amerika pasca peristiwa 11 September 2001 diberitakan marak melakukan sweeping terhadap warga-warga muslim yang tinggal di AS. Bahkan, tempat-tempat ibadah kaum muslimin juga menjadi target pengrusakan.

Namun, jauh di luar itu, jumlah muallaf justru semakin meningkat. Kecurigaan warga AS yang begitu besar terhadap warga muslim, menambah rasa penasaran warga AS non muslim terhadap islam. Bahkan terdapat trend yang sedang menjamur di negeri Paman Sam itu. Pasca kejadian tersebut, terjadi kenaikan jumlah wanita AS yang mengenakan hijab-bagitu biasa mereka sebut. Hijab adalah sebuah kain yang digunakan sebagai penutup kepala bagi perempuan muslim (biasa juga disebut khimar atau kerudung).

Fatima Az Zahra adalah satu dari sekian banyak perempuan AS yang menyimpan rasa penasaran yang besar terhadap islam. Ia tinggal di Indianapolis, sebuah negara bagian di Amerika Serikat. Perempuan bermata biru nan ayu ini memiliki hobi nongkrong di diskotik. Rok pendek adalah kesukaannya. Ia senang ngedugem sekaligus memamerkan kemolekan tubuhnya di klub-klub malam.

(baca entri selengkapnya….)

Antara Kartini dan Manohara

R.A. Kartini
Hari ini mungkin terasa special buat yang merasa dirinya perempuan. Ya, 21 April memang diperingati sebagai hari Kartini. Hari Kartini biasanya disebut harinya perempuan. Jadi, wajar jika pada hari itu perempuan-perempuan diperlakukan lebih istimewa dari biasanya. Polwan-polwan mengenakan kebaya. Anak-anak TK pun karnaval dengan kostum ala Ibu Kartini. Wahh, riuh pastinya. Di antara para perempuan tersebut, mungkin ada yang mendapatkan sekuntum bunga mawar ataupun hanya sekedar ucapan selamat.

Tapi saya kok merasa tidak demikian ya? Sampai saya menulis tulisan ini, masih belum ada saja hal istimewa yang saya dapatkan (kasian deh!). Namun, apapun itu, saya masih berharap ada something special yang datang tiba-tiba hari ini (huahaa….ngarep.com). Yah, kiriman paket barangkali. Apalagi jika paketnya bernilai dunia akhirat, ckckckckckk……

Anyway, busway, belakangan ini media-media banyak disuguhi berita tentang kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialami oleh model cantik asal Indonesia, namanya Manohara Odelia Pinot. Perempuan muda ini mengalami KDRT setelah dirinya menikah dengan Putra Mahkota Kerajaan negara bagian Kelantan, Malaysia, Tengku M. Fakhry. Entah itu benar atau tidak, tapi setidaknya begitulah yang diberitakan oleh media-media tersebut.

Jika apa yang diberitakan itu benar, maka saya bisa mengatakan bahwa kondisi Manohara sepertinya tidak begitu jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh perempuan-perempuan lain di negeri ini, bahkan bisa dikatakan lebih parah dari itu. Saat ini, kasus KDRT meningkat dari 4000 kasus menjadi 22 ribu kasus. Peningkatan ini tidak diiringi oleh keseriusan aparat hukum dalam menangani kasus ini (baca: http://www.gemari.or.id/file/edisi77/gemari7742.PDF).

Lalu apa yang bisa dilakukan kaum perempuan dalam rangka peringatan hari Kartini ini? Saya yakin, harapan untuk mendapatkan hak-haknya sebagai perempuan tetap menjadi hal yang akan terus diperjuangkan. Tapi menurut saya perjuangan itu seharusnya bukan dalam frame kebebasan yang sebebas-bebasnya bagi perempuan, hingga meninggalkan peran dan fungsi utamanya, baik sebagai istri, ibu bagi anak-anaknya maupun sebagai bagian dari masyarakat. Memang, banyak orang yang menyamaratakan antara perjuangan Kartini dengan perjuangan kaum feminisme. Dan tentang hal ini masih banyak menuai perbedaan pendapat.

Namun, apa pun itu sebelum Kartini lahir, perjuangan untuk mengangkat derajat kaum perempuan sudah sejak lama ada. Dialah islam. Sebuah diin yang tidak pernah meletakkan posisi perempuan pada tempat yang rendah. Islam memposisikan antara laki-laki dan perempuan sama, hak dan kewajibannya sama.  Kalaupun ada perbedaan di antara keduanya, itu hanya terletak pada peran dan fungsinya saja yang bersifat khusus, seperti ibu bagi anak-anaknya, istri bagi suaminyadan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, Islam selayaknya menjadi spirit bagi kaum perempuan dalam mengangkat derajat dan martabatnya.

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.