Nasionalis-Religius atau Religius-religius?

Kemarin, tepatnya selasa, 21 April 2009 saya baru saja membaca sebuah headline berita di www.detik.com. Hari itu merupakan momentum yang sangat baik bagi Partai Demokrat (PD) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kedua partai tersebut telah mencapai deal menuju koalisi capres dan cawapres. Ini berarti telah ada satu partai islam yang sudah berinisiatif untuk mengulang kembali koalisi kepemimpinan nasionalis-religius.
Lalu, bagaimana dengan partai islam lainnya? Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tinggal menunggu jadwal kesepakatan saja. Sedangkan, PAN dan PBB masih belum ada tanda-tanda untuk mengikuti jejak PKS.
Saya dan pembaca tentunya tidak lupa bahwa pasca pemilu 2004 yang lalu, PKS termasuk partai yang pro terhadap pemerintahan koalisi SBY-JK. Kali ini, PKS menawarkan Hidayat Nurwahid sebagai cawapres mendampingi SBY sebagai capres.
Koalisi kepemimpinan nasionalis-religius sudah merupakan cerita lama di negeri ini.
Pemilu 9 April 2009 telah berlalu. Kini, ia menyisakan duka dan kecewa. Para caleg partai yang memperoleh suara paling banyak, boleh bersenang hati. Tapi, tidak demikian dengan mereka yang tidak mendapatkan perolehan suara yang cukup. Kecewa dan sedih, itu pasti. Bahkan para caleg yang merasa kalah suara tersebut, rela mengakhiri hidupnya di ujung tali. 







