Catatan Asami

Berpikir untuk bergerak……

Archive for the tag “Karma”

THE POWER OF RIDHO

Saya pernah membahas tentang karma di sini. Bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada saat ini, secara instan bisa menghasilkan akibat saat ini pula (Kriyamana karma). Misalnya, anda menampar seseorang. Pada saat itu juga anda dihajar kembali. Atau, bisa juga terjadi pada waktu-waktu yang lain (Sanchit Karma). Contohnya, anda sering bershodaqoh sepanjang hidup anda. Sepanjang hidup itu pula, anda hidup dalam kemelaratan. Pada kehidupan selanjutnya, anda menjadi kaya. Ini yang disebut dengan reinkarnasi. Reinkarnasi adalah keyakinan bahwa setiap orang akan terlahir kembali pada masa yang akan datang. Konsep karma terintegrasi dengan reinkarnasi. Keduanya lahir dari suatu kepercayaan, yaitu Hindu dan Buddha.

Lalu, bagaimana jika suatu ketika rumah anda dibobol oleh sekawanan perampok. Jutaan rupiah uang anda hilang. Handphone, laptop, sampai-sampai deodoran anda pun hilang (hehehe…). Mungkin sang perampok kuatir kalau-kalau BB-nya (bukan blackbarry lho!) akan membangunkan penghuni rumah yang masih terbenam mimpi. Semua harta berharga anda lainnya ludes dibawa sang perampok. Apakah itu bisa dikatakan sebagai karma? Mungkin selama hidup anda selalu bersikap pelit alias kikir terhadap orang lain terutama terhadap faqir miskin. Sehingga Allah membalasnya dengan cara demikian?

Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa musibah di atas terjadi akibat kejahatan yang pernah anda lakukan. Sebagaimana yang sudah saya jelaskan di sini maka musibah yang anda alami tadi, dalam sudut pandang islam, tidak ada kaitannya dengan apakah anda pernah melakukan kejahatan di masa lalu atau tidak. Apakah selama ini anda enggan untuk bershodaqoh (giving) atau tidak. Apakah anda sebelumnya juga pernah nyolong atau tidak.

Apa yang baru saja anda alami tersebut merupakan ujian atau cobaan dari Allah SWT. Sebagaimana Allah firmankan dalam surah Al Mulk (2): “Yang Menciptakan mati dan hidup, untuk Menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”

“Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu”(QS. 3:186).

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji?”.(QS. 29:2)

Meluruskan Niat

Anda mungkin pernah mendengar atau membaca kisah seorang security yang merasa bosan dengan pekerjaannya saat itu. Maklum dia adalah sarjana akuntansi. Tujuh tahun sudah ia bekerja. Tapi, kondisinya begitu-begitu saja alias tidak ada peningkatan. Sudahlah gaji tidak pernah naik, tanggungan semakin bertambah pula. Pusing! Oleh seorang Ustadz, ia lalu disarankan untuk meningkatkan ibadahnya, yang wajib maupun yang sunnah. Dan mengambil dimuka gajinya untuk bulan depan alias kasbon.

Dengan tekad untuk mengubah nasib, jatah gaji bulan depan pun segera diambil. Lalu, dishodaqohkan ke faqir miskin tanpa bersisa. Dalam waktu singkat, tiba-tiba saja ia mendapatkan suatu keajaiban (miricle). Uang yang ia shodaqohkan dari gajinya itu dibalas oleh Allah 10 kali lipat lebih. Tidak hanya itu, dia pun dimutasi menjadi staf keuangan di perusahaan bos-nya yang lain.

Saya yakin anda memiliki beragam pandangan setelah membaca kisah di atas. Tanpa bermaksud menafikan pandangan anda tersebut, saya ingin mengajak anda melihat dari kacamata yang lain.

***
Motivasi seseorang dalam melakukan suatu perbuatan, terkadang atau seringkali berbeda antara yang satu dengan yang lain. Demikian pula dalam bershodaqoh. Tapi, sebagai seorang muslim tentunya, saya maupun anda, selayaknya menyandarkan segala perbuatan kita dengan aturan Allah. Anda tentunya tidak asing dengan kaidah syara: “al ashlu fi al-af’al attaqoyyadu bi al-hukmusy syar’i”. Bahwa hukum asal perbuatan adalah terikat dengan hukum syara’. Oleh karena itu, motivasi kita ketika bershodaqoh pun menyesuaikan dengan hukum syara’.

Tentang ini, Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari ridho Allah.” (QS. 2: 272).

“Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak” (QS. 74:6).

“Yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya). Dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhoan Tuhan Yang Maha Tinggi.” (QS. 92:18-21).

Dari ayat diatas, point yang bisa kita ambil adalah bahwa motivasi yang harus dibangun ketika kita bershodaqoh, adalah dalam rangka mendapatkan ridho Allah SWT semata, bukan yang lain. Termasuk mengharapkan sukses di dunia. Bahwa kemudian terjadi sebuah keajaiban setelah giving itu, hal tersebut tidak ada hubungannya dengan shodaqoh yang anda berikan. Tepatnya, tidak berlaku hukum sebab akibat. Tetapi merupakan rizki yang diberikan Allah kepada anda. “Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah”.” (QS. 34:24).
Oleh karena itu, menjadi kaya, mulia dan bahagia tidak ada kaitannya secara langsung dengan shodaqoh anda. Dalam hal ini, antara rizki dan shodaqoh tidak saling berhubungan satu sama lainnya.

Sebaliknya, ketika keajaiban itu tidak kunjung datang, bukan berarti shodaqoh anda tidak ada artinya. Sehingga membuat anda memutuskan untuk no giving lagi. Padahal, tidak ada perbuatan manusia sekecil apa pun yang luput dari perhatian Allah. Allah berfirman (yang artinya):
“Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).” (QS. 2: 272)

Lagipula, ketetapan Allah itu terkadang baik menurut pandangan manusia, terkadang pula buruk. Baik buruknya ketetapan Allah di mata manusia, merupakan suatu ujian yang harus kita terima. Anda hanya mempunyai dua pilihan, melaksanakan atau meninggalkan. Jika melaksanakan, balasannya adalah pahala. Jika meninggalkan, balasannya adalah siksa.

***
Sampai di sini, kita sudah bisa menarik benang merah bahwa karma bertentangan dengan ajaran islam. Manusia berbuat semata untuk meraih keridhoan Allah SWT bukan mengharapkan balasan yang lain. Baik maupun buruk merupakan kehendak Allah untuk menguji keimanan kita. Dengan begitu, kita hanya bisa menerimanya dengan sabar dan ikhlas.

MIGRAINES

Beberapa hari yang lalu, saya mengalami migrain yang tak kunjung sembuh. Belum pernah saya mengalami sakit yang lama seperti saat itu. Sekali waktu rasa sakitnya sirna. Tapi, tak lama kemudian kumat lagi. Saya tidak mengerti apa penyebab utamanya. Mungkin, saya terlalu banyak pikiran. “Tapi, masak iya”, pikir saya saat itu. Bukannya setiap hari saya memang selalu banyak pikiran? he..he..he. Memikirkan bagaimana bisa makan, keponakan yang setiap saat menanyakan kapan tantenya pulang dan kerjaan. Atau memikirkan pengamen di dalam bis, yang seringkali menemani perjalanan saya dari Grogol-Kuningan dengan kisah monolognya tentang burung Kutilang. Serta si Kakek jompo di pojok jembatan CL (citraland) yang selalu menyapa saya dengan senyuman sambil memperlihatkan gigi ompongnya.

Hal-hal yang bagi sebagian orang dianggap sepele pun bisa menjadi bahan pemikiran saya. Seperti, kamar berantakan, makan menu apa hari ini (ini mah in accordance with isi kantong :d). Dan yang pastinya memikirkan bagaimana blog ini senantiasa update (Huhu, so hard! :-( ). Lagipula, bukankah hidup memang harus dipikirkan sebelum dijalani (atau sebaliknya?). Kalau tidak, mana bisa bertahan hidup (?).

Anehnya, saat saya berada di rumah, rasa sakitnya masih bisa ditolerir. Begitu keluar rumah, saya hanya bisa mengernyitkan alis untuk menahan sakit. Apakah ini ada hubungannya dengan tempat (maksudnya, rumah atau gedung)? Ah, tidak mungkin. Tapi, saya jadi teringat pada seorang ahli perbintangan (paranormal gitu). Namanya Guan Lu. Ia hidup di jaman kerajaan Wei (salah satu Kerajaan hasil pecahan Dinasti Han di China) pada sekitar abad ke 200-an M. Suatu ketika, seorang istri Hakim dari kerajaan tersebut menderita sakit kepala (saya tidak tahu persis apakah sakitnya melebihi saya atau tidak ;-) ). Guan Lu diminta memberitahu penyebabnya. Selidik punya selidik, ternyata rumah sang hakim itu dibangun di atas kuburan. Ironisnya, mayat yang katanya memegang tombak itu, bagian kepalanya ada di dalam tembok rumah, sedangkan bagian kakinya ada di luar tembok, sehingga membuat dia sangat menderita. Dia lalu mengadu kepada Yang Mahakuasa. Akibatnya, istri sang hakim mengalami sakit kepala. Hal itu sebagai imbalan atas perbuatan mereka yang telah menyiksa sang mayat (disebut juga sebagai karma). Benar saja, setelah dilakukan penggalian, ditemukan mayat yang sudah lapuk, persis seperti yang diramalkan oleh Guan Lu.

Lalu, apa hubungannya dengan sakit kepala saya? Hem, bisa jadi gedung kantor yang saya tempati saat ini adalah bekas kuburan. Soalnya, di tempat saya bekerja sebelumnya, gedungnya pun juga dibangun di atas makam. Saya mengetahuinya dari seorang OB (Office Boy) yang sudah lama bekerja di sana. Hanya saja, posisi mayatnya mungkin tidak separuh di dalam bangunan dan separuh di luar. Barangkali itu pula yang membuat saya tidak pernah mengalami sakit kepala yang luar biasa sakit selama bekerja di sana (in my imagination, he…he..he..).

***
Term ‘karma’ oleh sebagian orang memang masih menjadi sebuah kepercayaan. Demikian pula ketika seorang bocah 10 tahun yang berasal dari sebuah desa di Gorontalo, terlahir dengan beberapa organ tubuh yang mirip dengan monyet. Hampir seluruh tubuhnya ditumbuhi rambut lebat. Telinganya bahkan nyaris tak memiliki lubang. Masyarakat sekitar menganggap peristiwa tersebut sebagai kutukan Tuhan. Bermula dari perkataan Bapak Septi-nama bocah tersebut- kepada Ibunya yang kala itu sedang mengandung. Saat itu, Sang Ibu sedang ngidam pisang. Oleh sang Bapak lalu dikatakan, “kenapa sih minta pisang melulu, seperti sedang mengandung anak monyet saja”. Banyak orang berkata bahwa perkataan Bapak Septi itu disebut dengan karma. Benarkah itu?

Dalam mitologi Hindu, anda tentu tak asing dengan kisah Mahabrata (pertama kali nonton, saat itu saya masih duduk dibangku SD). Diceritakan dalam kisah itu, Raja Dhristaratha yang buta kehilangan 100 putra-putranya dalam perang Bratayudha. Suatu saat ia memohon petunjuk Sri Krishna. Melalui daya sakti Krishna, maka Raja Dhristaratha mampu menyaksikan masa lalunya. Pada masa tersebut (Lima puluh kelahiran sebelumnya), ia menjadi seorang pemburu yang senantiasa membunuh anak-anak burung di sebuah hutan. Ia juga membutakan mata burung-burung dewasa dengan asap bara apinya. Akibat yang harus ditanggungnya pada saat Mahabrata berlangsung adalah ia lahir buta dan harus kehilangan seluruh putra-putranya.

***
Benarkah karma itu ada?

Karma adalah semua perbuatan atau aksi, perkataan yang dilakukan selama manusia hidup, baik maupun buruk. Ia berasal dari kepercayaan Hindu dan Buddha. Karma bisa dialami oleh siapa saja. Ketika anda lahir dengan kulit yang hitam, cacat, miskin, orang kaya, maupun sebagai banci, semua itu bukanlah sebuah kebetulan. Tetapi, merupakan pembayaran untuk karma-karma masa lalu. Setelah melalui berbagai fase-fase penderitaan dan kebahagiaan, maka anda kemudian bergulir ke kehidupan yang berikutnya (reinkarnasi). Karena itulah, karma tidak bisa dihapus. Bagi yang percaya terhadap karma, akan selalu berpandangan bahwa setiap kejadian yang ia hadapi atau yang terjadi adalah sebuah karma.

Islam mengandung nilai-nilai yang sangat unik (yang membedakannya dengan kepercayaan lain). Islam tidak mengenal karma. Memang benar bahwa setiap perbuatan manusia, baik maupun buruk, besar ataupun kecil, masing-masing sudah ditentukan balasannya. Perbuatan baik akan dibalas dengan pahala. Sebaliknya, perbuatan jahat/buruk dibalas dengan siksa. Allah SWT berfirman (yang artinya): “…Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik” (QS 53:31).
Hanya saja, kebaikan dan keburukan yang dilakukan seseorang tidak akan diturunkan ke generasi berikutnya, sebagaimana yang dialami oleh Raja Dhristaratha dalam kisah Mahabrata di atas. Setiap orang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Anda tentunya ingat firman Allah bahwa (yang artinya) “Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhan-mu sama sekali tidak menzalimi hamba-Nya (QS. 41:46).

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan ) itu untuk dirimu sendiri…..” (QS. 17:7).

Demikian pula dengan balasan dari setiap perbuatan yang kita lakukan, tidak serta merta dibalas saat ini juga. Melainkan ditunda hingga yaumul akhir nanti. ”Jika Dia hendak menyiksa mereka, karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan siksa bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapat siksa) yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung dari-Nya.” (QS. 18:58)

“Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu,..” (QS. 3:185).

Karma tidak ada habis-habisnya alias tidak akan punah. Dia mengikuti siklus kehidupan manusia. Oleh karena itu, kejahatan apa pun yang pernah anda lakukan akan dibalas pada saat ini atau di masa yang akan datang yaitu pada kehidupan berikutnya. Ini tentu saja bertentangan dengan konsep islam. Yaitu kejahatan atau dosa yang dilakukan seseorang, oleh Allah SWT. diberikan ruang untuk menghapus dosa itu. Caranya yaitu dengan memperbanyak kebaikan dan taubat. Dengan bertaubat sungguh-sungguh, maka impaslah dosa yang kita lakukan. Dan tidak akan lagi diturunkan pada generasi berikutnya. “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, pasti akan Kami hapus kesalahan-kesalahannya dan mereka pasti akan Kami Beri balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. 29:7).
Rasulullah SAW bersabda: ”Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, dan lakukanlah kebajikan setelah melakukan dosa, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan berkahkanlah terhadap manusia dengan akhlak yang baik.” (HR At Tirmidzi, melalui Abu Dzarr dan Mu’adz bin Jabal).

Jadi, sekarang saya bisa dengan yakin berkata bahwa sakit kepala saya itu bukanlah sebuah karma atas perbuatan yang pernah saya lakukan atau salah seorang atau beberapa orang dari keluarga saya lakukan. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah ujian dari Allah dalam rangka menguji keikhlasan saya.

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.