Catatan Asami

Berpikir untuk bergerak……

Open Your Heart!

Open_Your_Heart

Dikisahkan, sepasang suami istri hidup di sebuah pedalaman. Suami istri itu memiliki anak tunggal yang terserang penyakit mematikan. Rasa cinta dan tanggung jawab sebagai Bapak mendorong sang suami untuk pergi ke seorang Tabib yang terkenal pandai mengobati berbagai penyakit.

Mulailah Sang Bapak menyusuri jalan hingga tak terasa sudah berpuluh kilometer kakinya dikayuh. Keringatnya bercucuran karena terik matahari yang menyiraminya. Tak jarang darah pun menetes akibat kaki lecet beradu panasnya pasir dan batu kerikil.

Tiga hari kemudian, tibalah ia ke tempat yang dituju. Saat berjumpa dengan sang tabib, ia terheran-heran. Perjuangannya yang sangat melelahkan untuk sampai ke tempat ini hanya ditukar dengan sebotol air putih yang telah dicampur dengan satu sendok garam. Tak ingin menyinggung perasaan tabib, diambilnya botol itu.

Dalam perjalanan pulang, ia teringat akan ibu kandungnya yang sudah lebih dari lima tahun tidak pernah dijenguk. Maka, mampirlah ia ke rumah ibunya. Saat itu sang ibu ternyata sedang sakit keras. Kedatangannya disambut baik oleh ibunya. “Dari mana kamu wahai ananda?”, bertanya sang ibu. Sang anak lalu menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.

Singkat cerita, hati si anak terenyuh melihat sang ibu. Dengan niat yang tulus, diserahkan botol pemberian tabib kepada ibunya. “Bagaimana dengan nasib anakmu?” tanya sang ibu.
“Biarlah Tuhan yang melihat bahwa betapa aku menyayangi ibu lebih dari anakku sendiri”
Sang ibu terharu mendengar penuturan anaknya. “Sungguh mulia hatimu, ananda. Tahukah kamu maksud tabib memberikan botol berisi air dan garam? Betapa pun besarnya dan banyaknya masalah (baca:garam) jika hati kita lapang (baca:botol), maka kita telah dapat menikmati hidup.”

Sang anak tercenung sejenak lalu ia merasa bahagia, karena hari itu ia telah mendapat pelajaran hidup yang luar biasa bahwa “barangsiapa menyebarkan benih kebaikan dengan tulus, maka ia akan kembali dalam bentuk kebahagiaan.”
Sesampainya di rumah, ia mendapati anaknya telah sehat seperti sediakala.

Dalam dunia kerja, konflik antara rekan kerja maupun atasan adalah hal yang lumrah terjadi. Motivasinya bisa bermacam-macam. Boleh jadi seorang karyawan merasa iri dengan rekan kerjanya yang selalu mendapat perhatian dari atasan. Sehingga, sang karyawan pun berusaha untuk menjatuhkan rekan kerjanya itu. Boleh jadi pula karena perselisihan pendapat tentang kebijakan perusahaan terhadap suatu project. Ada lagi konflik antara atasan dengan bawahan yang dipicu oleh sikap atasan yang otoriter dan kebal kritik alias selalu merasa benar.

Anda mungkin pernah mengalaminya, tidak terkecuali saya. Sebagai new comer di perusahaan tempat saya pernah bekerja, saya sering mendapat cibiran dari rekan-rekan kerja yang lama. Tak jarang saya mendapati mereka menbicarakan saya di belakang. Sungguh menyakitkan memang. Anda bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika segala gerak-gerik anda selalu menjadi ‘sorotan’ bahkan bahan obrolan rekan kerja anda yang lain. Kalau saja saya tidak berusaha terpancing emosi, barangkali perang mulut tidak lagi bisa dihindari. Syukurnya, saat itu alam bawah sadar saya masih berjalan. Sehingga saya memutuskan untuk tenang dan tetap santai. Saya sadar, sikap kasar tidak mesti dilawan dengan sikap kasar pula. Pelan-pelan saya mencoba mencari informasi pada rekan lain. Barangkali ada kesalahan yang telah saya lakukan dan tidak saya sadari. Bagi saya, jika saya berbuat salah, lebih baik menyampaikannya secara langsung daripada harus membicarakannya di belakang. Selain tidak akan menyelesaikan masalah, juga akan menebarkan penyakit hati.

Usut punya usut, ternyata sang penebar “teror” memang dikenal tidak suka kompromi, terutama bila ada karyawan baru yang masuk. Bahkan, seringkali ia mendapat peringatan langsung dari atasan mengenai sikapnya itu. Lalu, apa yang saya lakukan? Melaporkan ke atasan tentang perilaku rekan kerja saya itu dengan harapan ia akan diberi sanksi? Atau membicarakan tentang kejelekannya juga? Tidak. saya memutuskan untuk mencari alternatif lain.

Setiap hari, saya masuk kerja dengan berusaha untuk selalu senyum, seolah-olah tidak ada masalah. Awalnya, saya merasakan ini tidak mudah. Terutama dalam menyelaraskan suasana hati dengan gerak tubuh. Sebagaimana yang anda ketahui, suasana hati yang sedang gembira akan mudah terdeteksi dengan gerakan tubuh kita. Begitu pula jika kita sedang tertimpa masalah. Dengan tersenyum, berarti saat itu kita sedang mengekspresikan perasaan kita. Oleh karena itu, hal yang saya lakukan adalah berusaha membuat hati saya senyaman mungkin. Dengan begitu, saya bisa tersenyum tanpa hambatan. Saya pun berusaha menyapa semua rekan-rekan kerja yang saya temui, tanpa pandang bulu. Sesekali ada yang sinis membalasnya. Tapi, saya tidak peduli. Saya berusaha bersikap apa adanya. Dan jujur, banyak manfaat yang saya peroleh dari sini (meskipun itu bukan tujuan utama saya).

Jika berbicara dalam konteks keimanan, senyum merupakan solusi cerdas mengatasi kecemasan seseorang. Sekiranya anda sedang tersenyum, lalu dikepala anda ditempeli sebuah alat bernama EEG (Electro Encelopalo Graphy), dalam layar monitor TV akan terlihat sebuah konfigurasi susunan syaraf yang sangat indah. Konfigurasi yang indah inilah yang akan membantu anda untuk berpikir lebih jernih dan tenang dalam melihat sesuatu, serta memiliki kemudahan dalam memahami sebuah permasalahan. Sebaliknya, konfigurasi itu akan berubah menjadi kumpulan gambar yang gelap dan tidak beraturan manakala anda cemberut.

Secara berkala, saya kirimi rekan kerja saya itu sms yang menanyakan kabarnya. Dan berdoa semoga Allah selalu melimpahkan berkah dan rahmatNya kepada dia. Saya berharap Allah membuka hatinya dan menjauhkannya dari prasangka. Mungkin anda akan berkata bahwa sikap saya terlampau berlebihan. Tapi, saya teringat pesan Nabi saw. bahwa barangsiapa yang mendoakan saudaranya pada saat ia tidak bersamanya, maka malaikat yang diserahi untuk menjaga dan mengawasi berkata, “Semoga Allah mengabulkan, dan bagimu semoga mendapat yang sepadan.” (HR. Muslim dari ummi Darda). Saya yakin Allah adalah Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Jika Allah berkehendak, tak butuh waktu sedetik untuk mengubah manusia dari baik menjadi jahat. Demikian pula sebaliknya. Keyakinan itulah yang selalu tertancap kuat di hati saya.

Alhamdulillaah, sekitar enam bulan kemudian (waktu yang tidak singkat memang), saya menerima sebuah sms. Ternyata dari si penebar “teror”. Ia mengucapkan permintaan maafnya atas apa yang telah dia lakukan pada saya. Subhanallaah…..

Benarlah apa yang dikatakan sang Bapak dalam sepenggal cerita di atas. Bahwa “barangsiapa menyebarkan benih kebaikan dengan tulus, maka ia akan kembali dalam bentuk kebahagiaan.”

Rasulullaah saw. bersabda: “Setiap kebaikan adalah Shadaqah.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Thanks to God, Thanks to Allaah.

Sebagai catatan, menebar kebaikan dengan mengharap kebahagiaan yang bersifat duniawi adalah sia-sia. Tebarlah kebaikan semata mengharap ridwanullaah. Sebagaimana para sahabat rasulullaah Saw. di masa perang Uhud. Saat itu, para sahabat merasakan betapa sulitnya memperoleh air. Teriknya matahari semakin membuat dahaga tak tertahankan. Ditambah lagi para sahabat Rasulullaah saw. banyak yang mengalami luka parah. Di antara mereka terdapat tiga orang sahabat yang nyawanya sedang berada diujung tanduk. Ketika sahabat yang pertama memperoleh air, diberikannya kepada sahabat yang kedua. Merasa sahabat yang ketiga lebih membutuhkan air, sahabat yang kedua akhirnya memberi air itu kepadanya. Hingga, sampailah ajal mereka sementara tak seteguk pun air itu diminum oleh ketiga sahabat tersebut

2 thoughts on “Open Your Heart!

  1. asami hishochi on said:

    Yup. doing for Allah not for humankind.
    waiyyaki, ukhtiy :-)

  2. Salam kenal!

    “Berbuat baik pada mereka yang tidak berbuat baik kepada kita.” Alhamdulillah, syukron remindernya =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.