Hari ini entah yang keberapa kalinya aku memutar memori, mencoba menghadirkan sensasi-sensasi masa silam. Diusiaku yang tak lagi bisa disebut sebagai usia ABG (Anak Baru Gede), aku berharap menemukan perbedaan. Terutama setelah beralih status ke Batita alias di bawah usia tiga puluh tahun. I’m not talking about the physical here.

Malam itu, di dalam bis yang tak begitu sesak oleh penumpang, aku duduk tepat di mulut pintu. Posisi demikian memudahkanku untuk melepas mata liarku. Walaupun tak ada lagi pemandangan di luar sana yang patut untuk dibanggakan meski sekadar sebagai penyejuk mata.

Bersyukur meski tubuh tak lagi seenergik kala matahari memamerkan kemegahannya, mata ini masih sanggup mempertahankan kemelekannya. Jika tidak, aku pasti akan terus mengantongi predikat sebagai penumpang yang sering kebablasan-sesuatu yang sangat tidak kuinginkan.

Angin bertiup cukup kencang. Memuntahkan hawa dingin bercampur asap dari knalpot kendaraan yang seliweran di jalan-jalan.  Aku tidak mencium asap rokok sedari tadi. “Kejadian yang langka”, kataku dalam hati. Tapi, syukurlah setidaknya malam itu aku terhindar dari enam puluh persen efek tidak langsung sebagai perokok pasif-andai para penikmat rokok itu sadar.

Aku berusaha menikmati perjalananku sembari ku panggil satu persatu pengalaman masa lalu dari balik long term memory. Mereka berdesak. Tapi ku pilih beberapa yang kuinginkan saja. Ketika satu di antara mereka muncul, aku tersenyum. Mungkin saja saat kejadian itu, aku tak pernah berpikir akan menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu bila mengingatnya sekarang. Sebagaimana kamu mungkin tak pernah berpikir bahwa kejadian yang kamu alami saat ini akan membuat kamu tertawa di kemudian hari. Ya begitulah. Sikap spontan manusia memang terkadang menuai kelucuan bahkan mungkin penyesalan di waktu lampau.

Kutinggalkan yang satu lalu ku panggil lagi yang lain. Kali ini memori itu membuatku termenung. Kuhadapkan diriku saat ini dengan diriku yang dulu. Tiba-tiba aku merasa baru mengenal diriku sendiri. Sama saja aku merasa baru mengenal orang-orang di sekitarku. Teman-temanku, sahabat-sahabatku dan orang-orang yang menyayangiku-aku pun menyayangi mereka- masih terasa seperti makhluk asing bagiku. Aku tidak lebih mengenal mereka sama saja aku tidak lebih mengenal diriku. Apalagi mengetahui kekuranganku, yang menjadi salah satu alasan mengapa aku begitu sulit menjawab pertanyaan dalam psikotest tentang apa yang menjadi kekuranganku.

Kalaupun aku kelihatan mengetahui diriku dan teman-temanku, itu hanya sebagian dari sedikitnya pengetahuan yang diberikan Allah kepadaku. Aku boleh saja berhahaha dan berhihihi kala berjumpa dengan mereka, tapi mereka tidak lebih mengetahui tentang aku sebagaimana aku tidak lebih tahu tentang mereka. Aku pun tak perlu menunjukkan keterkejutanku saat kudapati seorang teman bersikap ‘tak selayaknya’ sebagai teman, sekalipun ia adalah seseorang yang aku sungguh-sungguh telah menjadikannya seorang sahabat dan kepadanya kuberikan kepercayaanku. Di sana, aku sungguh melihat betapa terbatasnya aku.

“Hmmm….”, aku menarik nafas sebentar. Kualihkan pandangan sekilas ke wajah beberapa wanita yang sedang berdiri di sebuah halte. Raut wajah mereka terlihat tak bersemangat, sangat kontras dengan pakaian rapih yang dikenakannya. Beberapa malah terlihat gelisah. Sesekali menatap jam di tangan lalu ke jalan secara bergantian.  Mereka adalah wanita-wanita yang menghabiskan dua belas jam lebih waktunya di luar rumah. “Mereka memiliki keluarga”, aku berpikir, yang bisa mungkin menjadi motivasi utama mereka merelakan diri jauh dan lama dari keluarga mereka. Sekiranya mereka bisa membuat diri mereka berlimpah rizqi, aku yakin mereka akan memilih sepanjang hari bersama anak-anaknya, mendidik mereka, memastikan asupan gizi dalam makanannya, menemaninya bermain, mengatur rumah tangga suaminya, dan segalanya tanpa perlu berpikir hendak makan apa besok.

Kenyataannya, tak satu pun manusia yang bisa melakukan itu.  Kerja keras bukanlah jalan yang pasti mendatangkan risqi. Karena banyak orang yang sudah banting badan hingga banting harga diri, tapi risqi tak jua menghampiri. Kenapa? Karena aku, kamu dan mereka bukanlah dewa sebagaimana dalam kepercayaan polytheisme. Juga bukan makhluk Allah yang diberikan mukjizat tersendiri yang dengannya kita mampu mengatur risqi kita. Aku, kamu dan mereka tak lebih dari makhluk yang  penuh keterbatasan yang dicipta dari unsur yang tak ada alasan sedikit pun untuk dibanggakan. Ya. Aku, kamu dan kita adalah makhluk yang difitrahkan dengan segala keterbatasan.

Aku masih mencoba merasakan sensasi dari masa-masa yang telah kulewati. Ahh, peristiwa demi peristiwa yang telah menemani perjalanan hidupku hanya semakin memberikan justifikasi bahwa betapa sedikitnya aku mengenal diriku sendiri. Ia malah menyibak satu persatu apa yang tidak aku ketahui. Sepertinya itu menjadi bahasa Allah dalam berkomunikasi dengan hambaNya, untuk menyampaikan pesan bahwa ‘inilah kamu’.

Jika keterbatasan itu adalah fitrah bagi manusia, lalu mengapa justru banyak manusia yang sombong? Merasa dirinya lebih pintar, merasa yang paling mampu, merasa paling tahu akan kebutuhan orang lain sehingga dengan percaya diri mengabaikan aturan dari sang Regulator Tertinggi, serta merasa paling berhak atas yang lain? Bukankah keterbatasan seharusnya membuat aku, kamu dan kita sadar akan kelemahan yang kita miliki. Bahwa tidak ada manusia yang paling benar, tidak ada manusia yang paling pintar (Albert Einstein sekalipun), tidak ada manusia yang lebih memahami kebutuhan dirinya sendiri apalagi orang lain. Bahwa aku, kamu dan kita tidak lebih tahu daripada orang lain dan tidak lebih berhak atas orang lain.

Keterbatasan bukan untuk diumbar tapi untuk disadari. Sehingga, meskipun terbatas, aku, kamu dan kita juga tak perlu merasa lebih menderita dari orang lain dan lebih sengsara daripada orang lain, sehingga perlu dikasihani. Lalu memaksa orang lain untuk mentransfer perhatiannya kepada kita. Aku, kamu dan kita pun bukan yang paling banyak ketiban masalah. Karena masalah diberikan pada diri setiap individu yang bernama manusia.

Sesungguhnya aku, kamu dan kita tidak pernah tahu apa pun hingga Allah-Dzat yang telah mengcreate manusia-memberitahukan kepada kita. Pengetahuan itu sendiri tidak dijamin oleh usia, setua apa pun dia. Bukan pula oleh tingginya gelar akademik, materi, kekuasaan serta jabatan yang aku, kamu dan kita miliki. Juga bukan oleh status sosial di masyarakat. Hanya kesadaran akan keterbatasan dirilah yang mampu mengantarkan aku, kamu dan kita menjadi sosok yang tahu tentang diri, orang lain dan segala yang ada di sekitar kita.

Tengadahkan kepala kamu untuk sejenak saja. Lihatlah langit yang kokoh di atas lalu resapi makna dari firmanNya (yang artinya):

“Langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami). Sesungguhnya Kami pun meluaskannya” (TQS 51: 47).

Langit menjadi bukti betapa kecilnya kita. Tak ada yang luar biasa dari tubuh kita. Lantas, pantaskah kita menyombongkan diri?

“Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal pada Hari Kiamat nanti, bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya, dan digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa saja yang mereka persekutukan” (TQS 39: 67).


Bookmark and Share

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s