Pornotainment Dibalik Isu Video Porno Ariel-Luna Maya-Cut Tari

Posted: July 10, 2010 in Story
Tags: , , ,

Setelah hampir sebulan lamanya sejak video porno yang melibatkan Artis Ariel-Luna Maya-Cut Tari tersebar, ketiga selebriti itu tetap melakukan aksi tutup mulut. Sejak itu, setiap hari seluruh media terus menerus membahas tanpa bosan perkembangan kasus tersebut.

Hari Kamis 1/7, setiba di kantor saya langsung membuka situs yahoo untuk memeriksa surel yang masuk -sebagaimana kebiasaan saya setiap hari. Yahoo memang selalu menjadi situs pertama yang saya buka setiap pagi. Di sana saya bisa membuka surel sambil melihat list berita terupdate di halaman depannya. Lebih praktis menurut saya, meskipun berita yang ditampilkan merupakan kutipan dari sumber media lain. Tapi tidak jarang juga saya mesti ke sumber aslinya jika saya butuh detail beritanya.

Ada yang berbeda di halaman depan yahoo hari itu. Kalau selama ini masyarakat sudah kesal dengan sikap Ariel-Luna Maya-Cut Tari yang tidak berani mengakui perbuatannya terkait kasus video porno mereka, hari itu seluruh masyarakat Indonesia mungkin bisa melihat/membaca/mendengar permintaan maaf yang disampaikan baik Cut Tari dan Luna Maya. Meskipun kemudian permintaan maaf itu ditepis oleh pengacara Cut Tari, Hotman Paris Hutapea sebagai bukan pengakuan bahwa benar Cut Tari-lah yang di dalam video tersebut. Nah lho?

Esoknya, Jumat 2/7 Cut Tari akhirnya mengaku bahwa dialah yang beradegan mesum dengan Ariel, sebagaimana yang terlihat dalam video itu.

…media seperti ‘sengaja’ melakukan pornotainment di balik isu video porno Ariel. Yaitu menjadikan video porno tersebut sebagai hiburan bagi masyarakat….

Meski pengakuan sudah dipegang-kecuali Ariel dan Luna Maya- Perdebatan tentang kasus di atas masih terus bergulir. Baik yang pro maupun kontra, keduanya memiliki alasannya masing-masing. Namun, terlepas dari perdebatan itu, satu hal yang seringkali diabaikan adalah bahwa pornografi telah menjadi bisnis besar. Bisnis yang meraup multimiliar dollar. Tentunya karena produk-produk pornografi adalah komoditas industri yang berdiri dibalik modal besar perusahaan multinasional.

Sejak pornografi berubah dari sesuatu yang tabu menjadi tidak tabu, batas-batas moral tergilas bersamaan dengan hilangnya ketabuan pornografi. Anda bisa saksikan dalam hampir sebulan ini, isu video porno artis di atas terus dikupas. Bahkan, media seperti ‘sengaja’ melakukan pornotainment di balik isu video porno Ariel. Yaitu menjadikan video porno tersebut sebagai hiburan bagi masyarakat. Sudahlah masyarakat dirundung masalah dengan biaya hidup yang semakin menghimpit, pornotainment tampil sebagai penghibur dengan bahasa yang santai dan fun. Hingga menontonnya pun seolah beban runtuh satu persatu (iya nggak sih?).

…Ariel memiliki 32 video mesum yang tersebar di situs-situs luar negeri. Di tambah lagi, polisi telah menemukan di dalam laptop yang disita dari Ariel, puluhan wanita serta empat pria yang beradegan mesum dengannya, bisa dibayangkan, membahas kasus ini tidak akan pernah ada habis-habisnya.

Barangkali itu juga yang menjadi alasan mengapa kasus tersebut tak pernah berhenti dibahas oleh media-media di Tanah Air. Apalagi pelaku dalam video tersebut adalah artis yang memiliki penggemar yang tersebar di seluruh belahan Indonesia, sehingga akan selalu menarik untuk dibahas (baca: media mengejar rating).

Andai saja benar tentang isu yang banyak dibahas di beberapa mailing list (milis) saat ini bahwa Ariel memiliki 32 video mesum yang tersebar di situs-situs luar negeri. Di tambah lagi, polisi telah menemukan di dalam laptop yang disita dari Ariel, puluhan wanita serta empat pria yang beradegan mesum dengannya, bisa dibayangkan, membahas kasus ini tidak akan pernah ada habis-habisnya. Yang untung siapa? Siapa lagi jika bukan media!

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat jumlah korban perkosaan terhadap anak-anak pasca beredarnya video mesum Ariel adalah 33 anak dengan usia 4-12 tahun.

Sebaliknya, anak-anak, pelajar dan kalangan muda, serta orang dewasa malah menjadi buntung. Mereka tak henti-hentinya diberikan konsumsi berita yang notabene akan semakin membuat mereka penasaran. Akibatnya, terjadilah tragedi yang memiriskan hati sebagaimana yang dialami dua anak SD dan SMP di Surabaya yang melakukan pencabulan secara beramai-ramai kepada 10 anak SD. Bahkan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat jumlah korban perkosaan terhadap anak-anak pasca beredarnya video mesum Ariel adalah 33 anak dengan usia 4-12 tahun. Sedih? Tentu saja. Apalagi tragedi ini terjadi setelah anak-anak itu menonton video porno Ariel.

Berawal dari mendengar di TV, kemudian timbul rasa penasaran. Lalu, ramai-ramailah  video Ariel diburu (Kijang kali yang diburu!). Tempat mangkal pedagang kaki lima disisir tanpa berbekas. Duit jajan bela-belain disumbangkan ke warnet demi mengunduh video porno Ariel. Selanjutnya, larutlah mereka dalam tontonan terlarang tersebut. And finally, rasa penasaran pun terjawab.  Na’udzubillaah min dzalik.

Apa yang bisa dilakukan para orangtua? Orangtua yang loss control terhadap anak-anaknya menjadi tak bisa berkutik di tengah gempuran sihir media yang membius.

Lalu, adakah kepedulian dari media terhadap dampak buruk yang ditimbulkan dari tayangan mereka? Hem, lagi-lagi media berkilah dengan alasan kebebasan berekspresi. Yang kontra boleh saja sewot bin cerewet. Toh di ending story-nya, media-yang berlindung di balik modal besar-akhirnya menjadi the winner (selalu).

Kita mungkin masih memiliki harapan kepada pemerintah. Namun, sepertinya ini meragukan. Anda lihat, dalam kasus Video porno di atas, Ariel-Luna Maya-Cut Tari memang telah menjadi tersangka. Tersangka atas perilaku mesum mereka? Oh tentu tidak. Tapi, karena Ariel telah memproduksi materi pornografi (pasal 4 UU Pornografi), menyebarluaskan materi pornografi (pasal 27 UU Informasi dan Transaksi Elektronik/ITE) dan karena perilaku asusila (Pasal 282 KUHP). Luna Maya dan Cut Tari sendiri hanya dikenakan pasal yang terakhir. Dan jangan berharap mereka akan dijerat dengan UU tentang perzinahan karena yang di­mak­sud berzina dalam UU Pornografi adalah hanya bagi mereka yang salah satu atau keduanya telah menikah atau dalam ikatan perkawinan. Termasuk Cut Tari sekalipun, karena harus ada keberatan dari pihak suami. Kenyataannya, suami Cut Tari santai-santai saja tuh.

Jadi, lebih dari itu, jika anda melakukan free sex dengan siapa pun, negeri ini memberikan kebebasan yang sebesar-besarnya. Tentu dengan satu catatan, anda harus melakukannya di ruang privat dan tidak disebarluaskan. Anda tidak perlu takut akan berhubungan dengan pihak berwajib, karena hukum di negeri ini tidak memiliki alasan untuk menjerat anda dengan sanksi apapun!

Kekuasaan mendukung praktik pornografi dan industri pornografi pun mendukung kekuasaan. Sehingga yang akan bermain dalam kondisi itu adalah modal. Siapa yang punya modal dialah yang menjadi decision maker-nya.

Akibatnya apa? Baik Ariel ‘Peterpen’ maupun Ariel-Ariel lainnya tidak akan pernah jera oleh hukum positif negeri ini. Sehingga, probabilitas untuk mengulangi kembali perbuatan mereka masih 100%.

Ketika anak-anak anda menjadi korban, keluarga anda menjadi korban, bahkan istri anda pun menjadi korban, saat itu mungkin anda akan merasa resah. Tapi siapa yang peduli? Mengharapkan pemerintah melindungi anda sepertinya masih diawang-awang. Lihat saja bagaimana sikap pemerintah dalam menangani kasus video porno ini. Menteri Agama (Menag) lebih terdengar cerewet ketika merespon kasus kawin sirri beberapa waktu lalu yang hampir saja melontarkan UU yang akan menjerat pelaku kawin sirri dengan hukuman yang sangat berat-tapi kemudian dibatalkan karena banyaknya kritik dari masyarakat. Sedangkan terhadap pelaku pornografi (tidak hanya penyebar), Menag sepertinya ngilu untuk bersuara.

Terhadap media, kontrol pemerintah pun terasa garing. Apalagi dalam masalah pornotainment yang dilakukan oleh para pelaku media. Jangan-jangan memang ada simbiosis mutualisme antara keduanya (pemerintah dan media)? Sebagaimana yang dikatakan oleh Idi Subandy Ibrahim bahwa Kekuasaan mendukung praktik pornografi dan industri pornografi pun mendukung kekuasaan. Sehingga yang akan bermain dalam kondisi itu adalah modal. Siapa yang punya modal dialah yang menjadi decision maker-nya.

Jika demikian, saya dan Anda tentunya layak bertanya, kepada siapakah sebenarnya pemerintah mengabdi? Kepada rakyatkah atau kepada para kapital alias pemilik modal?


Asami Hishochi

Bookmark and Share

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s