Self Awareness
Membangun Self-awareness
Kisah tokoh-tokoh heroik yang diangkat dari sejarah masing-masing bangsa atau peradaban memiliki kekuatan sakti dalam membangun self-awareness. Tahukah anda bahwa dulu Belanda begitu sulitnya ketika hendak menaklukkan kesultanan-kesultanan di Nusantara, salah satunya adalah Samudera Pasai-Aceh saat ini. Generasi-generasi Aceh sejak dini sudah terbiasa mendengar kisah-kisah heroik para sahabat Rasul SAW. Demikian kuatnya pengaruh kisah-kisah heroik tokoh-tokoh sahabat Nabi itu sehingga melahirkan generasi yang tidak mudah untuk dijajah. Anda tentu mengenal kisah kepahlawanan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien yang menyiutkan nyali para kompeni saat itu.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Amerika. Di AS sejarah yang menceritakan tentang kekuatan AS dalam menghadapai bangsa-bangsa lain juga sejak dini telah diajarkan di sekolah-sekolah dasar. Impactnya sangat besar hingga setiap anak akan mengatakan, “I Love America” dan “I am proud to be Americans”. Di masa AS dipimpin oleh Presiden Bush, sang Presiden bahkan menggiring self-awareness rakyatnya dengan menciptakan iklim “perang melawan terorisme”. Meski ini adalah cara yang culas, tetapi iklim tersebut sedemikian rupa dihembuskan hingga sekarang mayoritas rakyat AS tersadar pada semangat “kepatriotan” Amerika. Dibenaknya, orang islam adalah ancaman lalu bersatu menghadapinya. Masjid-masjid dilempari batu dan para wanita muslim dilecehkan. Bahkan di sekolah-sekolah, anak-anak muslim mendapat perlakuan rasis di antara teman-temannya.
Cerita di atas hanyalah sebagian contoh bagaimana membangun self-awareness. Hal terpenting yang tidak bisa dilupakan dalam membangun self-awareness ini adalah memahami hakekat jati diri. Setiap manusia pada hakekatnya memiliki kedudukan yang sama yakni sebagai makhluk ciptaan Allah yang memiliki derajat yang tinggi di antara makhluk-makhluk Allah lainnya. Baik ia dalam kedudukannya sebagai bangsa yang pernah terjajah atau pun tidak. Orang Indonesia tidak lebih buruk dari orang Amerika, Inggris atau Perancis. Potensi kehidupan yang dimiliki masing-masing tidak ada yang berbeda. Kecuali itu, kuantitas informasi yang diperoleh serta kemampuan dalam melakukan ‘bonding’ dan mengelaborasi informasi itu saja yang membedakannya. Dari sana kita bisa mengidentifikasi apa yang menjadi kelemahan (weakness) dan kekuatan (strength) kita.
Dengan memahami hal tersebut, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak confident dan merasa inferior. Bagi seorang muslim, self-awarenessnya terwujud dari syahadat yang diucapkannya dalam bentuk bukan persaksian semata, sehingga Hukum syara’ baginya adalah life guide yang tidak dapat ditawar. Dengan self-awareness yang kita miliki dipadukan dengan nilai-nilai yang kita anut dan yakini, kita jadi bisa menyikapi kunjungan Obama ini dengan fair apakah menolak kedatangannya atau menerimanya.
Salah satu kewajiban seorang muslim adalah menyambut dan memuliakan tamu. Tetapi Al Qur’an telah menetapkan tamu mana saja yang patut dimuliakan dan tamu mana yang wajib ditolak. Obama adalah pemimpin negara adidaya yang seluruh dunia sudah tahu negara itu telah banyak menciptakan tragedi kemanusiaan di berbagai belahan negeri Dunia Islam, baik dalam bentuk penjajahan militer maupun penjajahan ekonomi, politik dan budaya. Karena berstatus sebagai pemimpin negara penjajah, maka berlaku ketentuan-ketentuan berikut.
1. Tidak menampakkan kesetiaan dan kasih sayang kepada mereka. Surat Al-Mumtahanah:1 dan Ali ‘Imran:118
2. Menerimanya sama saja dengan menyakiti kaum Muslim yang berada di negara yang sedang mengalami serangan militer AS. Padahal menyakiti kaum muslim adalah dosa. Surat Al-Ahzab:58
3. Menerimanya juga merupakan bentuk penghianatan kepada saudara sesama muslim lainnya yang tidak berada di dekatnya. Padahal membela kaum Muslim yang lain adalah kewajiban. “Siapa saja yang membela kehormatan saudaranya, Allah akan menolak api neraka pada Hari Kiamat dari wajahnya”. (HR At-Tirmidzi)
4. Rasulullah SAW pernah tidak menggubris Abu Sufyan yang merupakan utusan kafir Qurays saat itu yang mendatangi Nabi SAW. untuk memperbaiki perjanjian dengan beliau yang sebelumnya mereka langgar.
***
Finding your identity
is a process with no real end point.








mencari identitas..??still working on that..;)
like this