Pukul dua belas lebih empat puluh lima menit waktu Bandara Soekarno-Hatta. Saya baru tiba di loket check in sebuah maskapai penerbangan.
“Maaf, mbak, pesawat saya berangkat jam satu”, kata saya tanpa ba-bi-bu dengan nafas tersengal-sengal sambil buru-buru menyodorkan selembar print out tiket kepada salah seorang customer service (CS).
“Maaf, ini udah nggak bisa, mbak!”
“Blek!
”, seperti dikomando, detak jantung saya langsung memacu sekencang-kencangnya.
“Masak nggak bisa sih, mba? Plis dong gimana caranya biar bisa!
”, saya memaksa sambil memelas.
“Saat ini pesawat sudah closing door. Mbak coba ke loket yang di depan itu”, CS itu mengarahkan telunjuknya ke sebuah loket tak jauh dari tempat saya berdiri.
Saya bergegas menuju ke loket yang dimaksud.
“Permisi, pesawat jam satu, mbak”, kata saya sejurus kemudian.
“Mohon maaf, sudah nggak bisa. Mbak check in-nya telat. Maksimal check in itu adalah 30 menit sebelum boarding pass”, CS itu menjelaskan.
“Saya tau. Tapi, saya kan masih ada sisa waktu 10 menit untuk menuju pesawat”, saya mengelak.
CS itu ngotot. Saya mengatur nafas.
“Jadi saya tetep nggak bisa berangkat hari ini, gitu, mbak?”
“Kami beri dua pilihan. Jadwal mbak kami reschedule menjadi besok. Atau kalau mbak mau berangkat hari ini, mbak bisa pilih maskapai yang lain. Kalo mbak memilih yang terakhir, uangnya akan kami refund satu bulan berikutnya setelah dipotong sebesar Rp. 378 ribu”, dia menjelaskan lagi. Saya berpikir sebentar.
“Kalo saya pilih direschedule, gimana?”, tanya saya kemudian.
“Baik. Mbak berarti harus menambah uang sebesar Rp. 648 ribu”, jawab CS itu datar.
“How come?! Nggak salah tuh?
Banyak beneerr……!”
Setelah dijelaskan, saya baru tahu kalau angka 648 ribu itu diambil dari harga tiket besoknya dikurangi harga tiket saya hari ini. Serta ditambah dengan biaya keterlambatan sebesar Rp. 378 ribu. Busyet dah….!
Saya menjauh dari loket. Sedang saya masih memutar otak apakah saya akan mengambil pilihan pertama atau kedua, terdengar bentakan suara laki-laki. Saya memutar tubuh 90 derajat. Seorang Bapak terlihat mengarahkan telunjuknya ke CS yang baru saja saya temui tadi. Saya mendekat. Rupanya Bapak itu senasib dengan saya. Tapi sang Bapak berhasil membujuk atau tepatnya memaksa si CS untuk mengurus keberangkatannya hari itu juga. Dalam hati, saya merajuk. Saya merasa telah menjadi korban diskriminasi CS-CS itu. Mentang-mentang saya nggak segalak Bapak itu.
Tanpa pikir panjang, saya mendorong trolly saya menuju ruang duty manage. Ada tiga petugas di sana. satu orang laki-laki dan dua orang perempuan. Saya ceritakan tentang kondisi saya. Pun tentang Bapak di luar sana. Jawaban yang saya dapatkan tidak jauh berbeda dengan CS sebelumnya. Saya ingin marah tapi saya tahan. Sepertinya memang sudah tidak ada jalan untuk saya berangkat hari itu. Kecewa? Jangan tanya lagi ![]()
Saya lantas menanyakan tentang SOP (Standard Operation Procedure) khusus untuk case saya. Maklum, saya belum pernah ketinggalan pesawat sebelum ini. Namun tak ada respon yang berarti. Saya akhirnya keluar dengan wajah gemas dan lemas. Rasanya air mata saya ingin keluar. Untung saja saya masih bisa menguasai diri. Sempat saya berpikir untuk menemui manager maskapai itu yang biasanya selalu standby di airport. Tapi sepertinya percuma karena bagaimana pun juga pesawat yang akan saya tumpangi sudah berangkat. Itu adalah penerbangan terakhir. Saya malah terpikir untuk mengadukan masalah ini ke surat pembaca sebuah harian di Jakarta. Makanya, saya tak lupa mencatat nama-nama CS yang saya temui tadi.
Sepulangnya saya dari airport, saudara saya-yang sudah experience dalam soal ini-menelpon dan berkata, “Kamu nggak ngasih duit sama CS itu?” “Glodak!!
”, kenapa saya baru sadar tentang ini? Padahal kejadian seperti itu sudah lumrah terjadi. Tidak perlu ada perdebatan, cukup berikan beberapa lembar rupiah saya pasti sudah terbang. Itu adalah cara mereka untuk mendapatkan penghasilan tambahan di luar gaji yang mereka terima setiap bulannya. Saya terlalu panik bin kalut saat itu sampai-sampai saya lupa untuk berkata pada diri saya sendiri bahwa ‘Hei, loe sekarang ada di I N D O N E S I A ! Duit 100 atau 200 ribu pasti bisa menghentikan perang mulut antara loe dengan CS-CS itu. Dengan duit semua mulus. Dengan duit, apa sih yang nggak bisa dibeli?’ Sayang, saya tak selihai bapak-bapak teman saya saat hendak memuluskan anaknya agar diterima sebagai PNS di sebuah instansi. Apalagi selevel Anggoro dan Anggodo. Boro-boro! Sepertinya saya masih perlu banyak belajar dari bapak-bapak kita itu.
Esoknya, saya kembali datang untuk check in dengan flight yang sama dengan sebelumnya. Kali ini saya datang lebih pagi. Segera saya menuju ruang boarding pass. Pukul 12.35 sudah ada pengumuman untuk boarding pass. Jika mengikuti schedule ditiket, pesawat semestinya berangkat pada pukul 13.00. Kenyatannya, pukul 13.30 pesawat baru closing door. Andai saja jadwal hari itu sama dengan hari kemarin, artinya saya masih memiliki waktu sebanyak 40 menit untuk sampai ke pesawat.
Hem, tapi sudahlah. Sudah nasib saya memang untuk memberi pendapatan tambahan kepada maskapai tersebut. Hitung-hitung sebagai riski buat mereka meskipun ada pihak yang dikorbankan di sana. Kita tidak bisa mengelak dari hukum rimba yang berlaku saat ini, siapa yang kuat dialah yang menang. Demikian sebaliknya.










Salam…
pesawatnya apa? G****, kalo y lain biasanya mau walo telat.