Self Awareness
Dua hari yang lalu saya terlibat diskusi dengan salah seorang kawan. Saya baru mengenalnya belum lama ini, tetapi begitu pembicaraan kami menyinggung topik tentang Obama, kami berdua langsung nyambung. Saya bercerita tentang beberapa komentar seputar penundaan kedatangan Barrack H. Obama ke Indonesia yang sedianya tanggal 22 Maret, direschedule menjadi Juni 2010. Di salah satu harian ibukota yang saya baca versi online-nya, bertebaran komentar-komentar bernada miring yang dialamatkan pada mereka yang menolak kedatangan Obama. Tidak hanya di dunia maya, di dunia nyata pun seperti di pantry-pantry kantor saat jam makan siang, komentar dengan nada yang sama kerap terdengar.
Saya dan teman saya terus berdiskusi panjang lebar, sampai akhirnya kami berhenti pada pertanyaan, “Kenapa ya proses penyambutan Obama di Indonesia terasa spesial jika dibandingkan dengan tamu-tamu lain, ditambah lagi beberapa kalangan masyarakat sangat antusias?”. Anda tentu melihat bagaimana persiapan berlebih-lebihan yang dilakukan pemerintah Indonesia menjelang kedatangan Obama, yang tidak dilakukan pada tamu-tamu yang lain (kecuali George W. Bush). Kami sama-sama mencoba mencari alasannya. Versi pemerintahnya sebagaimana yang disampaikan oleh Menkominfo Tifatul Sembiring bahwa banyak kepentingan Indonesia kepada negara adidaya itu. Yang lain mengatakan, kedatangan Obama akan membuka pintu dialog antara Islam dan Barat yang ujung-ujungnya akan berdampak positif pada pencitraan islam itu sendiri. Lain-lainnya kami anggap sebagai alasan pelengkap saja. Tapi bukan jawaban itu yang kami inginkan. Kami berusaha mencari alasan mendasarnya apa.
Tiba-tiba saya teringat sebuah istilah yang pernah saya baca di sebuah harian cetak, yaitu self-awareness atau kesadaran diri. Apa hubungannya? Kalau anda bertanya begitu berarti anda sama dengan teman saya yang juga menanyakan hal yang sama :d
Tentu saja ada hubungannya. Dan jika anda ingin mengetahui hubungannya apa, baca terus tulisan ini sampai tuntas tas! *maksa mode:on* ![]()
Apa itu Self Awareness?
Self-awarenesss adalah kemampuan melihat pola pikir, perilaku kita yang berada di ketidaksadaran dan mengangkatnya ke alam sadar. Contoh, suatu ketika saya pernah didera rasa bersalah karena tanpa sengaja telah menyakiti seorang teman dengan kata-kata yang tidak pantas. Beberapa saat kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri “siapa saya? Kok saya bisa berkata seperti itu?”. Pada akhirnya saya menyadari bahwa saya bukanlah siapa-siapa, dia dan saya sama-sama manusia yang satu terhadap yang lainnya tidak lebih baik atau lebih buruk. Kalau dalam spirit islam dikatakan, yang membedakannya hanyalah ketakwaannya kepada Allah SWT.
Kesadaran terhadap diri baik sebagai individu maupun bangsa akan membantu kita mengambil sikap yang tepat sehingga bisa melangkah dengan gagah bahkan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Pemimpin Venezuela, Hugo Chavez salah satu contohnya. Kesadaran terhadap kemampuan bangsanya telah membuat ia mengambil sikap yang terbilang berani terutama ketika berhadapan dengan perusahaan-perusahaan AS. Ketika bangsa-bangsa lain seperti Indonesia berlomba-lomba melakukan swastanisasi terhadap perusahaan-perusahaan milik negara, ia dengan berani melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang masuk ke negaranya. Pada kesempatan lain, ia bahkan berani mengusir duta besar AS untuk Venezuela karena dianggap telah berkomplot dengan partai oposisi untuk menjatuhkannya. Self-awareness ini yang tidak dimiliki bangsa kita baik pemimpinnya maupun generasi-generasi penerus bangsa. Sehingga wajar jika bangsa kita menjadi sapi perah negara-negara lain. Kita menjadi bangsa yang tergantung, sehingga wajar jika banyak rakyatnya yang mati gantung diri.
Bangsa kita memang pernah mengalami era penjajahan selama 350 tahun lebih di bawah Belanda. Tentu itu bukan sebuah masa lalu yang indah. Artinya dalam tempo selama itu, setiap bayi yang lahir di masa tersebut sudah mengemban status sebagai kaum terjajah, tanpa peduli dengan segala potensi yang dimilikinya. Potensi yang saya maksud di sini adalah bahwa sebelum era penjajahan tersebut, anda tentu ingat bahwa bangsa ini adalah bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi. Pasca keruntuhan Majapahit, Bangsa kita dipimpin oleh kesultanan-kesultanan yang tersebar dari Samudera Pasai hingga Sulawesi. Islam menjadi dasar kehidupan masyarakatnya. Nilai-nilai kemanusiaan dijunjung tinggi, hak-hak setiap individu dalam masyarakat sangat dihormati.
Tetapi, kondisi itu berbalik 180 derajat begitu Penjajah datang menjarah setiap jengkal tanah Indonesia. Bangsa ini menjadi lemah. Self-awarenessnya hilang. Ibarat seekor elang yang terlahir di komunitas ayam, karena lahir dan tumbuh di lingkungan ayam, sang elang merasa yakin bahwa dia seekor ayam yang tidak ada bedanya dengan anak-anak ayam yang lain. Ia berkokok dan berjalan layaknya seekor ayam. Ia tidak pernah mengepakkan sayapnya. Tatkala suatu hari dia melihat elang terbang tinggi dengan gagahnya, ia hanya bisa berdecak kagum dan ternganga sambil berandai-andai sekiranya ia bisa terbang seperti itu.
Demikian pula dengan kita, karena terlahir di tanah jajahan, kita jadi lupa kalau dulunya kita pernah memiliki peradaban yang tinggi. Kita tidak sadar kalau kita juga mempunyai sayap yang bisa terbang tinggi dan hanya bisa ternganga saat melihat kekuatan yang dimiliki negara yang menjajah kita. Ketidaksadaran diri tersebut akhirnya mengantarkan kita pada sikap minder dan inferior. Bangsa yang tidak memiliki self-awareness akan sulit mengidentifikasi kelemahan dan kekuatannya. Ia akan cenderung mengekor dan tidak bisa menjadi pribadi/bangsa yang make a difference.
Hal tersebut lalu diperparah dengan memutar ulang sejarah melalui mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah bahwa kita pernah menjadi budak penjajah. Jika sebatas memberikan informasi saya pikir tidak jadi masalah. Tapi jika informasi itu sangat detail, bahkan tahun peristiwa yang berhubungan dengan VOC pun ‘dipaksa’ untuk dihafalkan, sangat memalukan bahkan berbahaya menurut saya. Terlebih jika sebagian dari rentetan sejarah itu kebenarannya disangsikan. Apalagi jika diberikan pada usia SD. Saya yakin, tidak ada orang yang senang disebut bekas korban perkosaan. Kenapa? Karena itu adalah aib. Menanamkan aib masa lalu terhadap anak akan menghasilkan impact yang dalam terhadap mindset dan perilaku anak tersebut. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang Psikolog Anak, Wiley Rasbury, semakin dini kita menanamkan nilai-nilai positif pada anak, semakin mengakar kualitas diri positif pada anak tersebut, akibatnya ia akan mampu menghadapi cobaan hidup apapun. Sebaliknya, semakin dini kita menanamkan nilai-nilai negatif pada anak, maka semakin mengakar kualitas diri negatif pada anak itu.
Kalaupun asumsinya adalah hal itu dilakukan dengan spirit agar generasi bangsa ini mengambil pelajaran dari sejarah itu dan ujung-ujungnya membenci segala bentuk penjajahan di muka bumi, tetapi mengapa beberapa peninggalan penjajah masih dilestarikan? Undang-Undang yang dipakai pemerintah saat ini, beberapa di antaranya masih merupakan peninggalan Belanda. Artinya, tidak matching antara ekspektasi dengan aksi.











