Di suatu siang, saya sedang searching video klip artis mancanegara via youtube. Tiba-tiba saya menemukan video iklan shampo Pentene. Bukan versi Indonesia sih tapi versi Thailand. Ceritanya, ada dua gadis remaja yang sangat cinta akan musik. Keduanya memutuskan untuk mengikuti kontes musik klasik (classical music contest) di kotanya. Gadis pertama memainkan alat musik biola (tokoh utama), yang lainnya memainkan piano (tokoh antagonis). Karena merupakan kolaborasi dua alat musik, maka mereka berlatih secara bersama-sama. Tapi, permainan biola sang teman sepertinya tidak mengalami kemajuan. Teman yang satu pun kesal dan memutuskan untuk bermain sendiri. Merasa diabaikan, gadis pemain biola ini lalu belajar keras. Dan berhasil. Ya, dia berhasil menjadi the winner pada kontes itu, meskipun biolanya harus dihancurkan oleh suruhan sang teman-sang teman tak ingin ia tampil dalam kontes itu. Ia mempersembahkan penampilan terbaiknya kepada seluruh penonton. Hingga tak satu penonton pun dibuat berkutik olehnya.
Karena ini adalah iklan shampo, maka adegan rambut melambai-lambai bak nyiur di pantai pun tak kan dilewatkan. Karena di situlah pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Bahwa dengan Pentene, you can shine. Shine rambutmu, shine pula impianmu.
Video berdurasi 4 menit 2 detik itu cukup kreatif menurut saya. Tentunya, terlepas dari commercial motivation yang ada di dalamnya. Yang paling penting menurut saya adalah karena ia telah membangkitkan salah satu impian saya yang hingga detik ini belum terwujud (kasian deh!).
Sejak dulu, saya ingin sekali bisa bermain biola (violin). Keinginan itu belum juga hilang meski sampai saat ini. Cuma anehnya, saya tidak pernah belajar bermain biola itu sendiri, hehe.. Kecuali itu, saya juga belajar bermain gitar. Abang saya yang mengajarkannya meski tak berlanjut lama. Bagi abang saya, saya terlalu cerewet untuk diajari. Bertanya melulu, katanya. Dasar tipe abang saya yang cuek, kalau ditanya, ia selalu diam. Bukan karena tidak mendengar pertanyaan saya. Tapi karena ia malas untuk menjawab. Meski sekedar berkata, “sorry?” atau “what?” atau mungkin “sebentar ya!”. Sikapnya semakin hari semakin membuat saya kesal. Dia lebih suka mengajari temannya daripada adik sendiri. “Huh!”, keluh saya saat itu. Padahal jari-jemari saya sudah bengkak akibat menekan senar gitar. Merasa diabaikan, saya pun akhirnya berhenti belajar. Sikap saya ini Beda sekali dengan apa yang dikatakan Pak Harfan dan Bu Muslimah-dua tokoh dalam Tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata- bahwa kita jangan pernah gentar pada kesulitan apa pun dalam menggapai suatu impian.
Keinginan bisa bermain biola pun tak menuai jalan. Sering sekali saya terpana melihat orang-orang yang mahir memainkan lagu dengan biolanya. Sungguh menakjubkan menurut saya. Saya terpana begitu telinga saya menyentuh alunannya. Violis tanah air yang saya kagumi adalah Idris Sardi. Gesekan biolanya unik menurut saya. Nicolo Paganini seorang virtuoso biola asal Italia juga telah menarik hati saya. Bicara soal Paganini, saya jadi teringat dengan kehebatannya dalam memainkan biola meski dengan satu senar. Luar biasa! Tapi lagi-lagi saya hanya bisa menyimpan rasa takjub itu dalam hati. Saya pernah berniat untuk mengambil les biola. Sayang, di kota saya saat itu belum ada yang menyediakan kursus alat musik. Lagipula, orangtua saya pasti tidak akan mengijinkan. Maklum, waktu itu orang tua saya punya prioritas yang lain untuk saya. Kecuali itu, biayanya pasti mahal.
Seiring berjalannya waktu, saya mulai sibuk dengan rutinitas saya. Keinginan itu pun perlahan terlupakan. Tapi, tidak demikian untuk hari ini. Keinginan itu terusik lagi, hehe. Mungkin suatu saat nanti impian itu akan terwujud. Dimulai dengan keseriusan saya tentunya. Layaknya Ikal dan Arai-dua tokoh cerita dalam novel ‘Endensor’nya Andrea Hirata-yang akhirnya bisa mewujudkan mimpi masa kecil mereka yaitu berkeliling Eropa. Kapan? Mungkin saat itu saya sudah dianggap terlalu tua ketika mewujudkannya. Tapi, bukankah ini bukan masalah terlalu tua atau terlalu muda, melainkan keinginan untuk terus bermimpi, dan keberanian untuk menyadarinya. Bukankah pula dengan membayangkannya, membawanya dalam tidur, berpikir terus menerus mengenainya, membicarakannya, merencanakannya, hal ini akan membawa kita lebih dekat dalam mewujudkan mimpi-mimpi kita? Seperti kata Arai dalam novel yang sama, bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.
Kemampuan untuk bermimpi terus adalah salah satu kualitas yang baik dari umat manusia yang tidak dimiliki oleh spesies mana pun di dunia ini. Berawal dari sebuah mimpi, Jepang mengalami kebangkitan ekonomi di era Kaisar Meiji dan menggeser negara-negara asal revolusi industri yaitu Inggris dan Amerika. Bermula dari mimpi pula, Joan of Arc-seorang gadis remaja berusia 18 tahun-berhasil mengusir pasukan Inggris dari Perancis dan memberikan kemenangan untuk negaranya.
So, saya mungkin akan terus bermimpi, dan bermimpi …. Kemudian, maju dan do it!











sekilas info niech…aku beli biola cuma 150rb aja koq..hik..belinya juga sama tukang tambal ban, aneh kan? tukang tambal ban aza bisa bikin plus maen biola….hayoooo. wasaalaaam
kayane nek pengin bisa resapi dulu lagunya…lalu ngiiik ngoook
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Betul …… semua apa yang di impikan jika dibarengi dengan kerja keras pasti akan terwujud.
Saya dapat tinggalan biola dari eyang. saya mencoba-coba memainkannya sendiri. Ah …. ternyata bisa walaupun masih sedikit2 sumbang. terus dan terus belajar hingga aku berkelana ke kota lain untuk mencari seseorang yang bisa membimbingku. Alhamdulillah ternyata sekarang saya sudah bisa dan orang2 di kotaku banyak yang meminta untuk mengajarinya. dan sekarang saya telah memiliki anak didik untuk dipentaskan pada acara2 yang saya kemas dalam bentuk orkestra. memang impian saya membentuk group orkestra dan sekarang dapat terwujud.
“Fokuskan pada apa yang telah Anda impikan” Salam sukses ……..
violin…. dan aku menyebutnya biola. ya, aku juga pernah mengalami ingin sekali belajar biola sejak kecil.dan sudah sejak aku masih berseragam putih biru aku sudah kagum dan menikmati gesekan Vanessa Mae di lagu Velvet Rope. tapi hingga umur 18thn aku hanya sempat memegangnya (tanpa memainkan). Ya,… tapi itu dulu. entah mengapa aku sekarang sangat membenci biola. dan begitu juga mengapa keinginan untuk bermimpi tiba2 menghilang dalam diriku. kenapa aku kini takut bermimpi……
karena mimpi seperti biola. indah didengar namun sungguh sulit dimainkan.
gt yah? hiks…
tp no problemo-lah, namanya jg bermimpi ya setinggi2nya, kalo perlu mah melampaui Burj Dubai (tetep):d
Untuk membuat kamu patah arang, maen biola emang super susah. bukan maen tengik susahnya. jadi, yah… sebaiknya kamu berputus asa. cobalah bas betot atau kecrekan… hoho pisss yo yo… guyon, Ah.
wa’alaykumussalaam. yoi! tp jgn jg cuma brmimpi tp ga kerja, hehe..
assalaamu ‘alaykum
dulu saya waktu kuliah les biola 1 bulan lho, iseng2 doank, haha. tp terus ga komit krn kyknya klo udah tua emang semangat belajar biolanya kurang berapi2 =p anyway, setuju! mimpi jgn pernah biarkan mimpi padam….