Antara Jakarta – Bogor: A Story of Chikung Kylin

(Minggu pagi di terminal Kampung Rambutan, Jakarta)
Langit terlihat sangat terang, meski saat itu jam tangan saya baru menunjukkan pukul 08.30 WIB. Para penjaja makanan terlihat berdesak-desakan di dalam sebuah bis yang penuh dengan penumpang. Hawa panas yang merasuk ke dalam bis seolah tak mereka hiraukan. Dengan semangat mereka menawarkan dagangannya kepada semua penumpang. Mulai dari buah jeruk, manggis, brownies, mainan anak, majalah hingga mesin jahit tangan.
Sambil berjalan, mata saya terus mencari area parkir bis jurusan Jakarta-Bogor. Sesekali langkah saya terhenti oleh beberapa calo bis yang sedang berburu penumpang. Sayang, saya bukan penumpang yang sesuai dengan kota tujuan yang mereka cari. Dengan memasang tampang sedikit judes, para calo akhirnya tidak berani lagi melemparkan pertanyaan pada saya.
Sepuluh menit kemudian, “Hearghh….alhamdulillah akhirnya ketemu juga”, sambil menarik nafas, saya pun mendekatkan diri ke arah bis yang dicari. Ternyata, bis jurusan Bogor diparkir sederet dengan bis jurusan Garut, Sukabumi, Bandung, Cirebon, dan beberapa bis jurusan Jawa Barat lainnya.. Namun, saya hanya menemukan satu buah bis jurusan Bogor parkir di sana. Itupun bis non AC. Tanpa berpikir panjang, saya segera mendekati seorang sopir bis, “Permisi Pak, bis AC jurusan Bogor nggak ada yang masuk terminal pak?”, “belum ada neng.” Jawab sang Sopir singkat. “trus, bisnya berangkat jam berapa pak?”, tanya saya lagi. “tunggu aja neng, paling 15 menit lagi”, jelas si Sopir. Saya pun menunggu.
Lima belas menit telah berlalu, tetapi bis yang dimaksud tak kunjung juga berangkat. “Pak, ini udah 15 menit lewat lho. Kok bisnya nggak berangkat juga?”, tanya saya ke Sopir bis tidak sabar. Seperti tidak peduli, si Sopir yang memakai seragam wajib sopir berwarna biru malah menjawab, “Iya mbak, tapi tunggu 15 menit lagi ya”. “Glodak!”, jawabannya hanya membuat saya tersenyam-senyum
Untuk menghilangkan rasa boring, saya pun memilih ngobrol dengan Sopir bis tadi. Cerita saya disambutnya dengan semangat. Hingga tak terasa, pembicaraan pun berlanjut ke masalah pemindahan jalur bis jurusan Bogor dari UKI ke terminal Kampung Rambutan. Sejak awal Juni 2009, pemerintah kota (pemkot) Jakarta memang memutuskan untuk meniadakan terminal bis antar-kota berada di dalam jantung kota Jakarta. Logika saya, jika bis-bis yang jumlahnya puluhan itu dipindahalihkan ke Kp. Rambutan, seharusnya akan banyak terlihat di terminal ini. Tapi, kenyataannya tidak. “So, where are them?”, gumam saya sedikit kesal.
***
(Di dalam Bis)
Bis sebentar lagi akan berputar arah menuju jalan tol. Dan o’o sebuah bis AC jurusan Bogor melintas di depan bis yang saya tumpangi. Jalan macet total, membuat saya terpikir untuk turun dan segera pindah ke bis itu bersama seorang kenalan di bis. Eits, karena kenek bisnya belum menagih ongkos, so, let’s go, guys!
Bis pun melaju dengan perlahan. Menyusuri aspal yang dibatasi oleh pohon-pohon hijau yang tak lama lagi akan hilang oleh pembangunan pemukiman orang-orang Jakarta yang sudah gerah dengan polusi udara. Pohon-pohon dengan batangnya yang kokoh itu membentang di sepanjang jalan, menaungi tanaman singkong yang masih tampak segar.
***
“Saya Lisa”, sapa seorang perempuan yang duduk di sebelah kanan tempat duduk saya. Lisa adalah seorang keturunan Tionghoa. Dilihat dari penampilannya, usianya mungkin sekitar empat puluhan tahun. Saya sedang asyik mendengarkan ceritanya tentang sebuah metode pengobatan alternatif yang katanya efektif menyembuhkan segala macam penyakit. Namanya Chikung Kylin, sebuah pengobatan dengan menggunakan energi dari dalam tubuh manusia. Dimulai dengan proses meditasi terlebih dahulu. Dengan cara itu pasien diajak memfokuskan pikiran, melupakan sebentar sakit yang diderita serta masalah yang mereka hadapi. “Ohya bu, memfokuskan pikiran kan bukan pekerjaan mudah kayak jogging atau aerobik, ada cara khusus nggak untuk membantu pasien yang kesulitan meditasi?”, tanya saya ditengah pembicaraan. “Iya, pasien biasanya dibantu dengan memperdengarkan musik atau alat bantu lainnya. Pada awalnya sih emang sulit. Tapi, itu bisa diatasi dengan terus berlatih”, Ibu Lisa menjelaskan.
Dilihat dari segi gerakannya, Chikung Kylin ini hampir mirip dengan jenis olahraga yoga. Perbedaannya, pada pengobatan Chikung gerakannya lebih soft sehingga sangat mudah dilakukan oleh para lanjut usia (lansia). Pengobatan yang dikembangkan oleh Dr. Frans Tshai ini berpusat di Jl. Guntur, Bogor. Dr. Frans sendiri adalah seorang Tiongkok yang lahir di Singkawang, Borneo, Kalimantan Barat. Sekitar ratusan pasien setiap minggu datang ke tempat tersebut yang memang dibuka setiap hari minggu pukul 10.00 – 13.00 WIB. “Oh ya, pengobatan ini tidak mengenal agama. Siapa pun dan penganut agama apapun bisa berobat di tempat ini”, tegasnya lagi.

Tak terasa, bis sudah memasuki pintu keluar tol. “Eh, kita udah hampir sampai”, Bu Lisa mengingatkan. Benar, dari tempat duduk saya yang berada paling depan, tepat di sebelah kursi Sopir, sudah tampak pintu gerbang terminal Baranangsiang, Bogor. “Kalo sempet bisa langsung datang aja ke tempat praktek kami ya. Ini nomor Hp saya”, Ajaknya sambil menyodorkan secarik kertas ke arah saya. “Ok, makasi bu. Sampai ketemu ya”, Jawab saya singkat. Rupanya Ibu Lisa ini merupakan salah satu instruktur (baca: penyembuh) di pengobatan chikung.
***
(Rumah)
Matahari sudah berada di atas kepala ketika saya membuka daun pintu rumah. Rasa penasaran terhadap pengobatan Chikung mendorong saya langsung bertanya ke Mbah Google. Tak bisa saya pungkiri, tingginya biaya berobat ke rumah sakit saat ini, membuat banyak masyarakat lebih memilih jenis pengobatan alternatif. Selain murah, pengobatan ini juga diyakini lebih efektif dan efisien. Karena itulah setelah istirahat cukup, saya penasaran ingin mengetahui gambaran serta kelebihan dari chikung ini. Dan hasilnya, tidak banyak informasi yang diberikan dari mbah google.
Seperti kata ibu Lisa, informasi mengenai pengobatan Chikung memang hanya menyebar dari mulut ke mulut. Mereka juga tidak memasang plang di tempat praktek. Meski demikian, pengobatan ini terbuka untuk umum.
Ada beberapa informasi yang saya dapatkan dari mbah google. “Mengenai meditasi yang ada di chikung, pada dasarnya tidak berbeda dengan meditasi pada yoga”, begitu kira-kira kata si Mbah. “Dalam meditasi sendiri setidaknya terdapat tiga fase yang harus dilalui.Yaitu fase dharana, dhyana, dan samadhi. Di Barat istilah ini dikenal dengan consideratio, contemplatio, dan raptus”, Lanjutnya.
“Dharana atau konsentrasi mental artinya memfokuskan pikiran pada suatu objek tertentu dan tidak sedetikpun mengijinkannya memikirkan objek lain sampai pada waktu tertentu. Fase kedua adalah dhyana yakni aliran pikiran tentang objek tertentu berupa warna, proses pembuatannya dan hal-hal lain yang berhubungan dengan objek tersebut. Pada fase ini aktivitas pikiran sangatlah dinamis dan intens. Selanjutnya adalah fase kesempurnaan atau samadhi. Ini dicapai ketika orang yang bersemedi menyatu dengan objek, seolah kehilangan jatidirinya. Proses ini seperti larutnya garam dalam air.”
Tentang meditasi ini, saya memperoleh data bahwa pada awal tahun 2002, seorang psikolog dari universitas Leuretian, Canada melakukan riset mengenai efek negatif meditasi. Dari 1.081 maditator-orang yang melakukan meditasi- sebanyak 221 orang mengalami gejala-gejala epilepsi, antara lain kejang-kejang dan keluarnya cairan dari mulut. “Bagi kita orang Indonesia mungkin akan membayangkan kondisi ini seperti orang yang sedang kesurupan”, Pikir saya.
”Dalam proses meditasi, alam bawah sadar seseorang ‘diangkat’ guna mengimbangi alam sadar, yang selama ini mendominasi kehidupan seseorang. Perasaan cemas, takut dan gembira yang selama ini terpendam dalam alam bawah sadar, bisa muncul pada saat meditasi. Disinilah emosi seseorang dieksplor. Sehingga wajar bila muncul ketegangan dan kegelisahan.” Kata Erwin Kusuma suatu ketika yang juga merupakan dosen hipnosis kedokteran, bagian psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Oh ya, Maggie Phillips, seorang Direktur california Institude Clinical Hypnosis, Oakland, Amerika Serikat, pernah dikunjungi banyak pasien yang mengalami efek negatif bermeditasi. Dari catatan medis, rata-rata mereka mengeluh cemas, susah tidur, dan muka pucat. Misalnya ada yang menderita cemas, merasa lingkungan disekitarnya seolah-olah gelap, susah tidur, mendengar suara-suara aneh dan bahkan ada yang merasa bahwa dirinya sudah meninggal dunia. Keluhan yang demikian sangat mengejutkan, karena dari riwayat famili, tak satupun dari mereka yang mengidap gangguan mental. “Waduh!”, kata saya lirih sambil terus melanjutkan membaca.
Bahkan menanggapi masalah munculnya faktor negatif dari meditasi tersebut, Phillips malah menyalahkan guru meditasi. “Sebab banyak pelatih meditasi tidak bisa menginteraksikan relaksasi dengan meditasi. Meditasi lebih sering dikedepankan ketimbang relaksasi. Akibatnya pasien kerasukan bayang-bayang. Padahal, relaksasilah yang membuat orang tenang bukan meditasi. Selain itu, meditasi terlalu lama dan mencampurkan dengan mantra-mantra bisa jadi pemicunya.” Begitu kata beliau.
“Sejumlah ahli syaraf dan psikiater memang sepakat, bahwa relaksasi pada meditasi bisa memicu kecemasan. Hal ini terjadi karena selama meditasi, otak mengeluarkan apa yang disebut dengan seretonim. Neurotransmiter itu meningkat melebihi kadarnya. Padahal seretonim terkait dengan memori dan kemurungan seseorang. Makin tinggi kadarnya, ingatan masa lalu bisa muncul lagi. Neurotransmitter adalah zat kimia di otak yang menghubungkan informasi antar sel syaraf di otak”, Mata saya terus mengikuti kata per kata yang saya temukan di salah satu website. Sesekali saya membaca dengan suara lirih untuk memecah diamnya malam.
Oleh karena itu, Erwin Kusuma, yang juga adalah psikiater di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto Jakarta lagi-lagi mengatakan, “Meditasi bisa memicu skizaphrenia dan epilepsy, Artinya penyakit jiwa yang sudah “mendekam” lebih dulu di tubuh pasien, lalu muncul setelah menjalani meditasi.”
***
Belum habis rasa penasaran saya, saya pun kembali menjelajahi dunianya mbah google. And do you know what’s I found? “Bentuk pengosongan pikiran dalam proses meditasi adalah salah satu bentuk kebodohan”, begitu kira-kira kata mbah-nya. “Lho, emang kenapa?”, tanya saya dalam hati, yang langsung dijawab dengan uraian mbah google berikutnya. “Hal ini karena jika pikiran sama sekali kosong dari mengingat Allah maka hati kita akan mati hingga akan dikuasai oleh syetan.” Mengenai ini, saya mencoba mencari info detailnya di buku kumpulan hadits. Dan saya pun menemukan hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a, Rasulullah bersabda,”Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepada-Nya,bagaikan orang yang hidup dengan orang mati.”
“Benar juga hadits di atas (ya iya dong, masa ya iyalah. Emang Rasulullah bisa bo’ong?)”, pikir saya saat itu. “Mengharapkan jalan keluar dari segala masalah yang kita hadapi, tidak semata-mata bisa dilakukan dengan meditasi. Ketika masalah melanda, kita seharusnya perbanyak mengingat Allah dengan membaca atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan dengan berzikir kepada Allah agar hati kita menjadi tenang dan bahagia. Bukan malah dengan cara mengosongkan pikiran. Kalo begitu mah, artinya kita telah membuka jalan untuk syaitan masuk ke dalam diri kita. And say: “welcome satan”, “ihh jangan sampai deh. Dzikir kan dapat dilakukan dimana saja pada tempat yang suci dan kapan saja dan tidak mengharuskan pada tempat khusus dengan posisi tubuh atau pengaturan nafas yang khusus”, Saya coba menganalisa.
Saya menemukan banyak sekali ayat-ayat Allah SWT yang menganjurkan untuk berdzikir. Seperti yang saya baca dalam Surat Al-Anfal:45.
وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan Berzikirlah kepada Allah sebanyak mungkin,supaya kamu bahagia”
Atau:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.”(QS.Ar Ra’d(13):28)
Juga firman Allah SWT dalam surat Yunus: 57-58, yang artinya begini:“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu nasihat daripada Tuhan kamu serta penawar bagi hati yang di dalam dada, juga petunjuk dan rahmat bagi orang-orang Mu’minin. Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmatNya hendaklah dengan itu mereka bergembira. Hal itu adalah lebih baik dari (harta) yang mereka kumpulkan.”
***
Jarum jam sudah diangka 00.15 WIB. (Huahrg) Sambil menguap, saya meluruskan kaki kanan yang sedari tadi terasa kesemutan. Kornea mata saya sudah tidak sanggup menatap monitor. Sepertinya saya harus segera beranjak keperaduan. Melayang ke negeri mimpi. Berlari-lari kecil sambil menggenggam purnama. Oh, indahnya….
==========================================
*** Jakarta, 10 Mei 2009
AH








makasi ya pak Kris ut info tambahannya…
Memang meditasi tidak bermaksud untuk mengosongkan diri sehingga badan dan jiwa kita dapat diisi oleh roh lain yang masih bergentayangan karena tidak punya badan. ,
Meditasi yang baik tapi bermaksud untuk berkonsentrasi pada hal-2 yang menyenangkan dan meditator tetap harus dalam keadaan sadar dan bisa mengendalikan situasi. Dengan demikian dia akan merasa nyaman dan bisa semakin peka terhadap banyak hal.
Makasi bu Maria sdh brkunjung ke blog sy. Makasi jg tlah menginspirasi saya
Hi mbak….., saya Maria yang ada dalam tulisan ini. Kebetulan teman saya yang menemukan tulisan ini.
Mbak AH rupanya penulis ya????
Main-main donk ke Jl Guntur 21, Bogor.