Catatan Asami

Berpikir untuk bergerak……

Archive for the month “June, 2009”

Cowok Ngegosip? Iih, Amit-amit…

Awalnya gue pengen nulis tentang “Tips menghadapi rekan kerja yang doyan gosip” dalam bentuk essay.
Eeh, tiba-tiba kepikiran mo’ nulis dalam kerangka ScenePlot. Cuma, bikin versi sederhananya aja. Semoga bermanfaat.

===============================

Gosip

Scene 01. INT. KANTOR VENESA CONSULTANT-PAGI. H1

Selly sedang duduk di kursi kerjanya. Sedang mengetik dan tampak wajah serius.

Arin terburu-buru berjalan menuju tempat absen karyawan. Setelah itu langsung ke meja kerjanya tepat di belakang meja Selly.

ARIN

(Tersenyum) Assalamu’alaykum, Sel!

SELLY

Wa’alaykumsalam.(Nengok sebentar)Eh, Mbak Arin dah dateng. (wajahnya kembali di depan komputer) Telat bu?!

Arin mengeluarkan sisir, bedak, cermin, lipstik dan blush-on dari dalam tasnya.

ARIN
(Sambil menyisir rambut) Gue yang telat, apa loe yang kepagian datengnya, Sel.

SELLY

Dua-duanya mbak (tertawa lirih sambil terus mengetik)

ARIN

(Menyapu pipinya dengan blush-on) Iya, mitoha mudik, euy! Jadi, ngurusin si dede dulu. (Membalikkan badan hingga terlihat punggung Selly) Lha, loe sendiri ngapain pagi-pagi dah muka serius gitu, Sel?

SELLY

Gi nyelesaiin laporan keuangan untuk bulan Maret, Mbak. Kemarin, Pak Cahyo ingetin gw lagi (menoleh ke arah Arin)

Arin terlihat sudah rapih dan cantik. Wajahnya tidak lagi sepucat saat pertama ia masuk tadi.

Dedi masuk, pandangannya langsung tertuju ke arah Arin.

DEDI

Eh, si ibu, tos sumping?! (tersenyum ke arah Arin) Rapi bener.

Arin tidak menghiraukan Dedi dan langsung menyalakan komputernya.

SELLY

(Menoleh ke arah Dedi)Eh ya, mas Dedi, kemarin ada fax buat Pak Cahyo. Seingat aku ditaruh di sebelah mesin fax. Sekarang kok dah nggak ada ya mas? Apa udah dimasukin ke ruangan Bapak?

DEDI

(Menoleh ke Selly, wajahnya dingin) Iya, aku udah kasih ke Bapak (dengan nada datar)

SELLY

(Berusaha tersenyum) Oh, thank you kalo gitu ya mas.

Dedi meninggalkan Selly untuk menyelesaikan tugasnya.

Selly bersiap-siap memprint-out laporan keuangan yang sudah jadi untuk dikoreksi oleh Pak Cahyo. Tiba-tiba, tampilan komputer Selly ngeblur lalu nge-hang. Selly mencoba merestart komputernya. Setelah nyala, 10 menit kemudian hang lagi. Selly panik. Lalu memanggil Pak Wayan untuk membantunya. Pak Wayan datang ke meja Selly lalu mengambil alih mouse yang dipegang Selly.

Setelah 13 menit, Pak Wayan menemukan ada kerusakan motherbord di komputer Selly.

WAYAN

(Menoleh ke Selly, serius) Sel, motherbord komputer kamu musti diganti nih. Untuk sementara kamu lapor dulu aja ke Pak Cahyo.

Scene 02. INT. RUANG DIREKTUR-SIANG

Selly melaporkan kerusakan komputernya ke Pak cahyo.

Pak Cahyo merekomendasikan komputer cadangan yang ada di sebelah ruangan Butet, agak jauh dari meja Selly, untuk dipakai Selly selama komputernya diperbaiki.

Scene 03. INT. PANTRY VENESA CONSULTANT-SIANG. H2

Dedi, Ramon dan Wayan lagi asyik ngobrol sambil makan siang.

DEDI

(Sinis) Dari tadi pagi, gue kagak ngeliat si Selly. Kemane lagi tuh anak? (memasukkan ayam goreng kemulutnya dengan tangan)

RAMON

(Sambil Ngunyah) Iye, kabur melulu tuh orang. Kemaren gue liat die lame banget di ruangan Pak Cahyo. Ngapain aje, mo ngerebut laki orang?! (tertawa terbahak-bahak)

Tawa Ramon disambut tawa Dedi dan Wayan. Suasana Pantry seketika ramai oleh tingkah ketiga orang itu.

INSERT: Di pintu masuk pantry, langkah Butet tertahan karena mendengar suara Ramon, Dedi dan Wayan.

WAYAN

(Menahan ketawa) Loe pade bise aje.

DEDI

(Menunjuk muka sendiri) Kalo gue nih ye, kalo gue jadi cewek, kagak ape-ape ngerebut laki orang, yang penting kerjaan gue bereees (tertawa sinis)

Dedi, Ramon dan Wayan tertawa terpingkal-pingkal tanpa berhenti.

Scene 04. INT. RUANGAN BUTET-SIANG. H3

Butet menceritakan kejadian yang didengarnya di pantry siang kemarin. Flashback ke potongan scene 3.

SELLY

(Menahan marah, sedih) Allohumma laa thoiro illa thoiruka, walaa khoiro illa khoiruka, walaa ilaaha ghoiruka (suara lirih)

BUTET

(Heran) Eh, loe barusan ngomong apa, Sel?

SELLY

(Pura-pura nyantai, memaksakan tersenyum) Eh ya, tadi gue doain loe, Tet, biar loe cepet dapet jodoh.

BUTET

(Semakin heran, mengernyitkan dahi) Sel, yang lagi ada problem kan loe, kok malah gue yang loe doain? Aneh loe!

SELLY

(Sedih, datar) Tet, sejak pertama gue masuk kesini sampe sekarang, Mas Dedi emang udah judes ke gue. Tau kenapa. Tapi, gue sih tetep berusaha ramah ke dia. Terserah, dia ma temen-temen yang lain mau ngomong apa di belakang gue. Gue mah positif thinking aja.

BUTET

(Wajah yakin) Bener, Sel. Disini tuh, loe musti tahan kuping. Ampe merah sekalipun. Kalo loe dah mulai gerah, sibukin diri loe. Biar loe teralihkan dari mikirin omongan-omongan nggak penting dari mereka.

SELLY

(Tersenyum, yakin) Iya, Tet. Gue slalu berusaha sabar aja. Bahkan dalam setiap doa gue, gue nggak pernah lupa nyebut nama temen-temen tuh agar dibalikkan hatinya dari negative thinking. Karena hanya Allah satu-satunya yang Maha membolak-balikkan hati kita. Ya nggak sih, Tet?

BUTET

(Manggut-manggut) Iye-iye. Jadi yang Allohumma…apa tuh tadi? Itu doa yang loe maksud ya?

SELLY

(Mengingat-ngingat) Ooo, Yang tadi itu artinya, Ya Allah, tidak ada kesialan kecuali yang telah engkau tentukan. Dan tiada kebaikan kecuali yang telah Engkau tetapkan pula. Serta tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Jelas? (agak tegas) Eh, btw, loe sendiri gimana slama disini, Tet?

BUTET

(Nada kesal) Gue mah cuek aja, Sel. Bodo amat. Dulu sih, sempet heran, biasanya kalo cowok tuh ya, nggak banyak urusan. Maybe otak cowok-cowok disini setipe dengan manusia Mars kali ya? (ketawa lirih)

SELLY

(Suara pelan) Hus! Ada-ada aja loe! (Tegas) Apapun yang mereka omongin tentang gue, kalo itu bener-bener gue lakuin, berarti mereka sama aja telah memakan bangkai sodara mereka yang udah mati, Tet. Kalo mereka tau itu dan slalu inget, gue yakin, mereka pasti akan merasa jijik. Tapi, kalo yang mereka omongin itu nggak pernah gue lakuin, ya artinya mereka udah memfitnah gue. Ya nggak, Tet?

BUTET

(Antusias) Tul! Ohya, atu lagi, Sel. Jangan diladenin. N’tar mereka capek sendiri kok. Kalo diladenin, n’tar malah membenarkan kata-kata mereka lagi. Keep straight your way!

SELLY

(Tersenyum) Pinter loe, Tet!

BUTET

(Berdiri lalu menepukkan tangan ke dadanya) Ya iyalah, Butet gitu lho. (Setengah berbisik) Tapi, jangan bilang-bilang ya. Ini resep dari Mario Teguh, ha ha ha (tertawa)

Butet dan Selly tertawa terbahak-bahak. Setelah itu Selly kembali ke meja kerjanya.

8057 Ada di Alat Makan Anda

mangkuk

Bicara soal makan, kurang lengkap rasanya jika tidak menyinggung tentang peralatan makan. Piring, mangkuk, sendok, garpu dan gelas adalah peralatan wajib yang selalu menemani kala kita makan. Tapi, mulai sekarang anda harus lebih berhati-hati dalam memilih dan menggunakan alat-alat tersebut. What’s up?
(Baca entri selengkapnya…)

Antara Jakarta – Bogor: A Story of Chikung Kylin

terminal baranangsiang2

(Minggu pagi di terminal Kampung Rambutan, Jakarta)

Langit terlihat sangat terang, meski saat itu jam tangan saya baru menunjukkan pukul 08.30 WIB. Para penjaja makanan terlihat berdesak-desakan di dalam sebuah bis yang penuh dengan penumpang. Hawa panas yang merasuk ke dalam bis seolah tak mereka hiraukan. Dengan semangat mereka menawarkan dagangannya kepada semua penumpang. Mulai dari buah jeruk, manggis, brownies, mainan anak, majalah hingga mesin jahit tangan.
(baca entri selengkapnya…)

Nyanyian Bocah Pengamen

anak jalanan

Jika anda naik bis kota, pernahkah anda perhatikan pengamen yang bertebaran di bis-bis dan angkot-angkot terutama pengamen yang selalu membawa anak balita? Balita-balita itu biasanya digendong oleh seorang ibu atau seorang laki-laki yang saya tidak bisa pastikan apakah mereka adalah orang tua sang balita atau tidak, entahlah.

Bahkan yang sangat memprihatinkan saya adalah balita itu digendong oleh seorang anak yang masih berusia sekitar 4 tahuanan. Pemandangan ini seringkali saya dapatkan ketika naik bis nomor 46 jurusan Grogol-UKI. (baca entri selengkapnya…)

Ketika Curhat Berujung Petaka

Prita 1

Memiliki anak yang sehat dan lucu adalah idaman Setiap ibu. Di saat tubuh lelah, seorang anak hadir menghilangkan penat di kepala. Syaraf pembangkit semangat seorang ibu seketika terpacu begitu melihat wajah kecil dan lucu sang anak. Suaranya memancarkan energi yang bisa menentramkan hati. Ya, barangkali ini hanya sebagian gambaran yang dirasakan oleh kebanyakan kaum ibu.

Namun, hal itu tentu saja berbeda dengan Prita Mulyasari, seorang ibu muda yang memiliki dua orang balita. Meski sedang lucu-lucunya, Prita tidak bisa-atau tepatnya tidak kuasa- menikmati kebersamaan bersama kedua balitanya itu. Prita harus rela meninggalkan mereka karena harus mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Tangerang. Tragedi ini bermula dari keluhan Prita yang dilayangkan ke suara pembaca detik.com (baca isi surat Prita) pada tanggal 30 Agustus 2008 tepatnya pukul 11:17 WIB.
(baca entri selengkapnya…)

Mr. Bije-ku Malang…

bajaj noisy
Hiruk pikuk mobil dan motor seketika memecah keheningan pagi. Udara pagi yang biasanya fresh hilang oleh sorotan sinar matahari yang sudah terasa menyengat dikulit. Seolah ingin menunjukkan kepada alam akan kehebatannya.

Tidak jauh dari pusat kemacetan kota Jakarta, suasana terik meliputi jalan Pela Mampang, sebelah selatan, Jakarta. Lalu lalang manusia yang sebagian besar hendak ke tempat kerja semakin menjadi-jadi oleh kehadiran Mr. Bije.

Bright orange and noisy, itu adalah gambaran sang Mr. Bije alias bajaj. Bajaj pertama kali menjadi populer di negeri India. Ia merupakan pengembangan dari kendaraan vespa. Mr. Bije ini barangkali sedikit mirip dengan MotoTaxi yang ada di Peru, atau Tuk-tuk di Thailand. Bagi pembaca yang sudah memiliki pengalaman tentang Mr. Bije ini, tentu sudah pernah pula merasakan AC alam-nya yang menambah suasana semakin seru, Hahhaha…
(baca entri selengkapnya….)

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.