
Hari ini mungkin terasa special buat yang merasa dirinya perempuan. Ya, 21 April memang diperingati sebagai hari Kartini. Hari Kartini biasanya disebut harinya perempuan. Jadi, wajar jika pada hari itu perempuan-perempuan diperlakukan lebih istimewa dari biasanya. Polwan-polwan mengenakan kebaya. Anak-anak TK pun karnaval dengan kostum ala Ibu Kartini. Wahh, riuh pastinya. Di antara para perempuan tersebut, mungkin ada yang mendapatkan sekuntum bunga mawar ataupun hanya sekedar ucapan selamat.
Tapi saya kok merasa tidak demikian ya? Sampai saya menulis tulisan ini, masih belum ada saja hal istimewa yang saya dapatkan (kasian deh!). Namun, apapun itu, saya masih berharap ada something special yang datang tiba-tiba hari ini (huahaa….ngarep.com). Yah, kiriman paket barangkali. Apalagi jika paketnya bernilai dunia akhirat, ckckckckckk……
Anyway, busway, belakangan ini media-media banyak disuguhi berita tentang kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialami oleh model cantik asal Indonesia, namanya Manohara Odelia Pinot. Perempuan muda ini mengalami KDRT setelah dirinya menikah dengan Putra Mahkota Kerajaan negara bagian Kelantan, Malaysia, Tengku M. Fakhry. Entah itu benar atau tidak, tapi setidaknya begitulah yang diberitakan oleh media-media tersebut.
Jika apa yang diberitakan itu benar, maka saya bisa mengatakan bahwa kondisi Manohara sepertinya tidak begitu jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh perempuan-perempuan lain di negeri ini, bahkan bisa dikatakan lebih parah dari itu. Saat ini, kasus KDRT meningkat dari 4000 kasus menjadi 22 ribu kasus. Peningkatan ini tidak diiringi oleh keseriusan aparat hukum dalam menangani kasus ini (baca: http://www.gemari.or.id/file/edisi77/gemari7742.PDF).
Lalu apa yang bisa dilakukan kaum perempuan dalam rangka peringatan hari Kartini ini? Saya yakin, harapan untuk mendapatkan hak-haknya sebagai perempuan tetap menjadi hal yang akan terus diperjuangkan. Tapi menurut saya perjuangan itu seharusnya bukan dalam frame kebebasan yang sebebas-bebasnya bagi perempuan, hingga meninggalkan peran dan fungsi utamanya, baik sebagai istri, ibu bagi anak-anaknya maupun sebagai bagian dari masyarakat. Memang, banyak orang yang menyamaratakan antara perjuangan Kartini dengan perjuangan kaum feminisme. Dan tentang hal ini masih banyak menuai perbedaan pendapat.
Namun, apa pun itu sebelum Kartini lahir, perjuangan untuk mengangkat derajat kaum perempuan sudah sejak lama ada. Dialah islam. Sebuah diin yang tidak pernah meletakkan posisi perempuan pada tempat yang rendah. Islam memposisikan antara laki-laki dan perempuan sama, hak dan kewajibannya sama. Kalaupun ada perbedaan di antara keduanya, itu hanya terletak pada peran dan fungsinya saja yang bersifat khusus, seperti ibu bagi anak-anaknya, istri bagi suaminyadan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, Islam selayaknya menjadi spirit bagi kaum perempuan dalam mengangkat derajat dan martabatnya.